<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Irfangigih&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://irfangigih.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irfangigih.wordpress.com</link>
	<description>Bukan Ruang Hampa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 01:56:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irfangigih.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Irfangigih&#039;s Blog</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irfangigih.wordpress.com/osd.xml" title="Irfangigih&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irfangigih.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>internet explorer 8 (IE8), rasa baru browser windows</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/12/rasa-baru-internet-explorer-8-ie8/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/12/rasa-baru-internet-explorer-8-ie8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 15:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEPUTAR KOMPUTER]]></category>
		<category><![CDATA[ie8]]></category>
		<category><![CDATA[internet explorer 8]]></category>
		<category><![CDATA[irfan gigih]]></category>
		<category><![CDATA[irfangigih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Internet explorer merupakan browser atau software penjelajah internet yang dari awalnya memang sudah termasuk bagian dari Windows. Ketika windows di instalasikan ke dalam komputer dan menjadi sistem operasinya, maka Internet Explorer ini sudah include di dalamnya. Jadi tidak perlu menginstalnya secara terpisah atau secara tersendiri. Satu hal yang saya rasakan ketika menggunakan Internet Explorer untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=258&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Internet explorer merupakan browser atau software penjelajah internet yang dari awalnya memang sudah termasuk bagian dari Windows. Ketika windows di instalasikan ke dalam komputer dan menjadi sistem operasinya, maka Internet Explorer ini sudah include di dalamnya. Jadi tidak perlu menginstalnya secara terpisah atau secara tersendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang saya rasakan ketika menggunakan Internet Explorer untuk menjelajah dunia maya adalah kesulitan untuk menemukan fungsi buka tab baru dalam satu halaman IE. Jadi ketika membuka halaman baru, maka terpaksa dengan menggunakan bukaan IE baru lagi. Tidak sebagaimana browser lain seperti Google Chrome, Opera, Safari ataupun terutama Mozilla Firefox yang sudah familier saya sering gunakan sebab sepengertian saya memang banyak sekali yang memakainya di berbagai tempat yg saya ketahui (misal di warnet-warnet atau PC teman yang pakai modem).</p>
<p style="text-align:justify;">Kekurangnyamanan sewaktu menggunakan IE tersebut membuat penasaran, bukankah IE adalah produk dari Windows sendiri, yang tentunya (dalam pikiran bilang) harus jauh lebih mudah atau kata lainnya User Friendly daripada browser lain. Daripada penasaran mending cari jawabannya melalui kacamata pengamatan Mbah Google aja, dan ketemu juga jawaban dari problem kecil ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata memang pada IE tidak tersedia tab baru dalam satu halaman. Jadi selama ini pengguna browser IE yang ingin membuka halaman baru, mesti membuka juga IE baru juga, tidak ada menu yang memfasilitasi mereka bisa membuka tab baru pada halaman yang sama. Tidak seperti browser lain yang memberikan kemudahan jelajah bagi penggunanya dalam hal tab baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi bertanya-tanya, kekurangan seperti ini kenapa justru bisa ada pada produk Windows sendiri, yang sudah include di dalam Sistem Operasinya. Tapi melihat survey dari banyak lembaga yang mengumpulkan data perbandingan penggunaan browser, ternyata jumlah pengguna IE secara global sangat dominan. Perbandingan penggunanya jauh lebih banyak daripada pengguna browser selain IE. Akan tetapi juga jumlah tersebut tidak berlaku pada akhir-akhir ini, sebab kemudahan yang terdapat pada browser-browser pesaing dari IE tentu saja menarik minat banyak orang untuk menggunakannya. Data termutakhir menyebutkan pengguna IE sudah tidak lagi berada di posisi puncak. Browser-browser unggul lain pun berlomba untuk memuncaki dalam hal penggunaan terbanyak dalam menjelajah internet. Browser-browser tersebut adalah Google Chrome, Mozilla firefox, Opera dan Safari.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjawab tantangan dari para pesaingnya, Microsoft pun mengupdate browsernya agar dapat kembali bersaing dan kembali berusaha mendominasi pangsa pengguna mesin jelajah. Update terbaru dari Windows untuk IE nya adalah IE8 untuk XP ke bawah, dan IE9 untuk versi windows terbaru: Windows 7 dan Vista.</p>
<p style="text-align:justify;">Penasaran dengan versi terbaru dari IE, saya pun mendownload untuk mencoba rasa baru dari IE8. Ternyata memang berbeda sekali antara versi terbaru dan versi sebelumnya. Serasa menggunakan browser populer lain semacam Firefox, Opera, chrome atau Safari. Belum banyak yang saya ketahui tentang IE terbaru ini. Sepintas menggunakannya memang mudah, tapi belum bisa sefamilier ketika menggunakan Firefox. Apa fasilitas di Firefox seperti Grease Monkey bisa juga didapatkan di IE terbaru, ini salah satunya yang belum saya tau. Grease Monkey sangat membantu ketika harus menulis dan mencari rujukan buku yang dipromosikan dalam Google Books.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk tab baru yang jadi persoalan di awal tulisan tadi, memang sudah terdapat pada IE terbaru ini. Namun dalam satu halaman ketika mau membuka untuk tab baru dengan jalan klik kanan, tidak selalu terdapat opsi tab baru tersebut. Jadi terkadang dalam satu halaman yang bisa dilakukan adalah klik pada pilihan-pilihan di dalamnya tanpa bisa memanfaatkan klik kanan, buka tab baru tanpa meninggalkan halaman awal. Entah memang begitu atau karena kebelumtahuan aja. Mengandaikan jika memang seperti itu, tentu ini artinya sama saja dengan penonton dibuat kecewa untuk kedua kalinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum banyak yang saya tahu tentang IE terbaru ini, tulisan ini pun saya buat ketika baru dalam hitungan jam untuk pertama kalinya memasang IE di komputer. Apakah akan mengecewakan atau banyak kelebihan baru yang memang benar-benar baru yang akan menempatkan IE kembali di posisi puncaknya sebagai browser yang familier bagi para penggunanya. Atau justru ada kekurangan penting lagi yang justru akan mengakibatkan penggunanya berpaling ke browser lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekian, ponoreog: 120112 PM.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/258/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=258&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/12/rasa-baru-internet-explorer-8-ie8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>الماتريدي وآراؤه الكلامية</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/08/%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a7%d8%aa%d8%b1%d9%8a%d8%af%d9%8a-%d9%88%d8%a2%d8%b1%d8%a7%d8%a4%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%83%d9%84%d8%a7%d9%85%d9%8a%d8%a9/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/08/%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a7%d8%aa%d8%b1%d9%8a%d8%af%d9%8a-%d9%88%d8%a2%d8%b1%d8%a7%d8%a4%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%83%d9%84%d8%a7%d9%85%d9%8a%d8%a9/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 15:41:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[semester dua]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[al-maturidi]]></category>
		<category><![CDATA[kalam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[المقدمـــة يحتمل الماتريدي أهمية كبيرة في الإسلام, فهو مؤسس الفرع الثاني لعلم الكلام السي. يقول طاش كبري زادة في هذا المعنى: اعلم أن رئيس أهل السنة والجماعة في علم الكلام رجلان: أحدهما حنفي, والآخر شافعي, أما الحنفي فهو أبو منصور الماتريدي وأما الشافعي فهو أبو الحسن الاشعري. كان الماتريدي عاش في القرن الرابع في بلاد [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=248&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">المقدمـــة يحتمل الماتريدي أهمية كبيرة في الإسلام, فهو مؤسس الفرع الثاني لعلم الكلام السي. يقول طاش كبري زادة في هذا المعنى: اعلم أن رئيس أهل السنة والجماعة في علم الكلام رجلان: أحدهما حنفي, والآخر شافعي, أما الحنفي فهو أبو منصور الماتريدي وأما الشافعي فهو أبو الحسن الاشعري. كان الماتريدي عاش في القرن الرابع في بلاد ما وراء النهر وينتسب إِلَى الإمام أبي حنيفة -رَحِمَهُ اللَّهُ- في الفقه لكنه تعلق بعلم الكلام، وناظر المعتزلة وناقشهم وأكثر من مخالفتهم، وكان متأثراً بالمنهج الكلامي في الجملة، فخرج عن كثير مما قرره الإمام -أبو حنيفة رَحِمَهُ اللَّهُ، وأصبح الأحناف ينتسبون إليه في العقيدة وينتسبون إِلَى الإمام أبي حنيفة في الفقه. رد الماتريدي على أقطاب مذهب الاعتزال كثيرة, من أمثال النظام وابن شيب وجعفر بن حرب والكعبي, كذالك ظهر مذهب التجسيم, فظهر محمد بن كرام السجستاني زعيم طائفة الكرامية بعد المائتين من الهجرة, وقد كان للماتريدي ردود على الكرامية, الذي ظهر مذهبهم على يد حمدان الأشعب المعروف بقرمط سنة 264 ه وكذالك ظهر جهم بن صفوان زعيم الجهمية, والذي عاش فترة في سمرقند ونسب إليها, وقد نقد الماتريدي قول الجهمية بالجبر. ولقد كان من معاصري الماتريدي من الصوفية وقريب من موطنه الحسين بن منصور الحلاج ومعرفة الماتريدي لهذه الآراء وردوده عليها وموقفه منها يعنى هذه الآراء كانت منتشرة ومعروفة في بيئته. وحين ذاك أيضا لقد انتشرت آراء غير إسلامية وكان له أتباع في عصرالماتريدي وبيئته, ويعتبر كتابه التوحيد من أقدم المراجع التي فيها ذكروا آرائها بالتفصيل والردود عليها. وقد خلع على الماتريدي أصحابه ألقابا كثيرة فيذكر السكغوي أنه قد سمي إمام الهدى وقدوة أهل السنة و الأهداء, رافع أعلام السنة والجماعة, قالع أضاليل الفتنة و البدعة, والشيخ الإمام أبو منصور الماتريدي إمام المتكلمين و مصحح عقائد المسلمين. هذه الألقاب تدل على علو كمكانته العلمية بين أصحابه وجهاد في نصرة السنة والدفاع عن العقيدة وإحياء الشريعة, ولذا ذكر التيمي أنه فاق الأقران وتعجل به الزمان وشاعت مؤلفاته وسارت مصنفاته, والتفق الموافق والمخالف على علو قدرته وعظمة محله وطيب بشره, فإنه كان من كبار العلماء العلام الذين بعلمهم يقتدي, ولذلك يعرف عند الأئمة إمام الهدى, وكان آية في علم الكلام. فهذا هو سبب إختياري بهذا الموضوع, لكي نتعمق آراء وموقف الماتريدي في علم الكلام. نشأة الماتريدي و منهج اكلامى أ. نشأته اسمه محمد بن محمود أبو منصور الماتريدي و أصله ماتريت أو ماتريدي وهي محل في سمرقند في بلاد ماوراء النهر. اسم الماتريدي ينسب إليها, وأحيانا تضاف النسبة إلى سمرقند, فيقال أبو منصور محمد بن محمد بن محمود الماتريدي السمرقند. ولم تذكر المصادر شيئا عن تاريخ مولد الماتريدي, و إن كان يرجع أنه ولد في عهد المتوكل (232-247 ه), ولذالك لأن تاريخ وفاته إثنين من أساتذة الماتريدي, وهما محمد بن مقاتل الرازي كان سنة 248 ه ونصير بن يحي الباخي كان سنة 268 ه. وعلى هذا يكون الماتريدي مولودا في وقت يسمح بتلقيه العلم على يدي هؤلاء, وكذالك من أقران الماتريدي من مات سنة 268 ه وهو محمد مسلم بن عبدالله بن مغيرة بن عمر والأزدي. واتفقت المرجح علة تاريخ وفاة الماتريد 333 ه, ودفنه في سمرقند فيما عدا كبرى زادة ذكر أنه مات سنة 333 ه, ولكن المشهور وهو ما أجمع على أصحابه الطبقات وهو سنة 333 ه. نشأ الماتريدي في منطقة آسيا الوسطى, وهي التي كانت تسمى في القديم بما &#8220;وراء النهر&#8221;, وهذا النهر يسمى ‘جيحون‘, ويعرف في كتب الجغرافيها الوصفية باسم &#8220;أوكسوس.&#8221; وتقع حياته فيما بين النصف الأخير القرن الثالث والنصف الأول من القرن الرابع الهجري, وأول من دخل سمرقند وفتحها ابن عثمان, وعندما ولى خرسان من جهة معاوية سنة 55 ه وعبر النهر ونزل على سمرقند محاصرا لها, وتركها, وف سنة 78 ه قتيبة بن مسلم النهر وغزا بخارا والشام ونزل على سمرقند, وهي غزوته الأولى, ثم غزا النهر عدة غزوات في سبع سنين. ب. منهجه 1. التوسط بين العقل والنقل السمة الأساسية لمنهج الماتريدي هو التوسط بين العقل والنقل. ولقد رأى الماتريدي خطأ الوقوف عند حد النقل أوالمغالات في جانب العقل. ورأى الماتريدي أن الموقف العدل هو التوسط بينهما, وذكر أن دواعي استحسان ذالك الموقف الوسط هو قوله تعالى: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللّهُ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. والوسط في ذالك له دعامته في الدين, وهو خير تعبير عن روح الدين الإسلام الذي تدعو تعاليمه إلى الأخذبالوسط في كل الأمور. وكذالك كانت روح الوسط هي التعبير السائد في الفكر الإسلامي في مختلف مجالته. فنرى الماتريدية ولأشاعرة وسط بين السلف والمعتزلة, والشافعي وسط بين مالك و أبو حنيفة, وحاول الفلاسفة الإسلاميون التوسط بين الدين و الفلسفة. وليس موقف الوسط كما يظن أنه مجرد التوفيق بين الآراء و أنه يخل من الإنكار. وذالك لأن موقف الوسط يتطلب معرفة كاملة لأحكام النقل و أحكام العقل, ولابد من معرفة كاملة بالكتاب والسنة, والمحكم والمتشابهة والناسخ والمنسوخ, والأخبار وشروطها. وتلك الأحكام النقل لابد أيضا من معرفة أحكام العقل والنظر والتأويل والاجتهاد وإقامة الأدلة والبراهين, على نحو ما سنعرف عند عرض النظر في فصل المعرفة, فهو موقف يتطلب فهم كجانب النقل وجانب العقل ثم الوصول إلى رأي يحفظ للنقل قداسته وللعقل مكانته. وموقف الوسط موقف نظري اعتباري, وليس موقفا حسابيا دقيقا, ولذا فهو موقف صعب, لابد فيه من الميل إلى جانب دون جانب آخر. ومع ذالك سوف نري كيف كان الماتريدي من أكثر مذاهب توفيقا في تحقيق موقف الوسط أكثر من الأشعري الذي سلك منهج والنقل. 2. استقلال الفكر استقلال الفكر هنا بمعنا عدم التعصب لمذهب أو رأي معين بل يجب البحث عن الحقيقة, وعدم المتابعة لفكر معين حتى وإن اسطدم مع الحقيقة, وموقف الوسط يتيح استقلال الفكر. فليس فيه تعصب أو مغالاة تصد السبيل عن الوصول إلى الحقيقة, وهذا الاستقلال يضمن الفكر حريته وموضوعيته ونزاهته. 3. النظرة الكلية للأشياء امتاز فكرالماتريدي بنظرته الشاملة الكلية وربط الجزئيات بالكليات, ورد المسائل المتفرعة إلى أصولها التي تجمعها, و هذا هو النظر الفلسفي الذي لايقف عند الجزئي, ولايقف في المسائل الفرعية بل يردها إلى الحقيقة التي تجمعها, ويوضح ذلك عنايته بأصول الفقه وعنايته فيه, وهو علم يقوم على ربط المسائل الفرعية الفقهية بأصول أحكام فقهية عامة, واشتغاله بهذا العلم على توعية فكره الفلسفي المنطقي. 4. الربط بين الفكر والعمل ليس المهم عند الماتريدي هو أن تتزاحم أفكارنا وتكثر حصياتها في الذهن, وأن تخلق في سماء التجريد, و أن نؤمن بنزعات طلاقية, وأن تشدق بجدل لفظي عقيم, لكن المهم هو أن نواهم بين أفكارنا وأعمالنا بحيث أن نفوذ أفكارنا وعلومنا تهديه, و أكثر المواقف ترفض الدخول في تفصيلات لاطائل تحتها, و يذكر في صراحة أنه ليس لنا معرفة تلك الحاجة. 5. الاهتمام بالمعنى المضمون كانت نتيجة الربط بين الفكر و العمل عند الماتريدي اهتمامه بالمعنى والمضمون فلا يقف عند حد الشك بل ينفذ إلى عمق الجوهر. ويلتمس المعنى وراء الشكل أو اللفظ. والمهم هو إبراز المعنى والكشف عن مضمون وإدراك مراميه وتحقيقه. ولقد وضح ذالك عند تناوله لبعض التعريفات. فهو مثلا لايخلو كثيرا بتعريفات معينة للجسم, بل المهم هو إدراك معناه ونفي تحقيق ذلك المعنى في حق الله تعالى, وغير ذلك مما سنعرض له. 6. السمة النقدية يمثل النقد جانبا كبيرا عند الماتريدي ولقد قام الجاني النقدي لآراء الخصم عنده على عرض هذه الآراء وتحليلها وردها إلى أصولها والبحث عن علة الخطأ فيها. ولقد سلك في ذلك المنهج الجدلي, ونجد لديه ما يشبه الحوار السقراطي القائم بالتهكم والتوليب. ويتصف لنا أبو المعين النسفي طريقة الماتريدي في جداله مع خصومه, بأنه كالمساهل الملقي زمام كلامه إلى خصومه ليقوده إلى ثقة منه بضعفه وعجزه عن مقاومته في محل النزاع والجدال. بعض آراء الماتريدي الكلامية 1. حكم مرتكب الكبيرة بينما المؤمن عند الماتريدي, لايخرج عن الإسلام بكبيرة يرتكبها من قتل وعقوق. وليس بين الإيمان والكفر منزلة بين المنزلتين, ولا اسما بين الاسمين, لأن الله تعالى قسم البشر إلى قسمين: مؤمن وكافر. قال تعالى: هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌ. وقطع سبيل الرحمة أما الكافرين فقال: وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُوْلَئِكَ يَئِسُوا مِن رَّحْمَتِي. وقال: لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ. وقال: وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّآلُّونَ. من هنا نعرف على أن المؤمن لا ييأس من روح الله, وإذا تفرقت فيه ثلاثة شروط: أولها, الندم باالنسبة إلى ما صدر عنه في الماضي. الثاني, تركه الفعل بالنسبة إلى الحال. الثالث, العزم على الترك بالنسبة إلى المستقبل. والتوبة واجبة على العبد لقوله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ. وهي مقبولة قطعا لقوله تعالى: أَلَمْ يَعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. وقال أيضا: وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ. 2. التوحيد و الصفات الالهية و العدالة الإلهية أ.التوحيد قال أبو منصور الماتريدي: والدلالة أن محدث العالم واحد لا أكثرالسمع والعقل وشهادة العالم بالخلقة. فأما السمع فهو اتفاق القول, على اختلافهم على واحد, إذ من يقول بأكثر يقول به على أن الواحد اسم لابتداء العدد واسم للعظمة والسلطان والرفعة والفضل, كما يقال: فلان واحد الزمن ومنقطع القرين في الرفعة والفضل والجلال, وما جواز ذلك لا يحتمل غير العدد, والأعداد لانهاية لها من حيث العدد, وفي تحقيق ما يعد يخرج عن النهاية العدد, فيجب أن يكون العالم غير متناه؛ إذ لوكان من كل منهم شيء واحد, فيخرج الجملة عن التناهى بخروج المحدثين, وذالك بعيد. ثم من عدد يشار إليه إلا وأمكن من الدعوى أن يزاد عليه وينقص منه, فمن لم يجب القول بشيء – لما لا حقيقة لذلك بحق العدد – لا يشارك فيه غيره؛ لذلك بطل القول به. ثم دلالة العقل أنه لو كان أكثر من واحد ما احتمل وجود العالم إلا بالإصلاح, وفي ذالك فساد الربوبية. ومعنى آخر: أن كل شيء يريد أحد ممن ينسب إليه إثباته يريد الآخر نفيه, وما يريد أحدهما إيجاده يريد الآخر إعدامه, وكذلك في الإبقاء والإفناء, وفي ذلك تناقض وتناف, دل الوجود على مححدث العالم واحد. وأما دلالة الإستدلال بالخلق فهو أنه لو كان أكثر من واحد لتقلب فيهم التدبير نحو أن تحول الأزمنة من الشتاء والصيف, أ تحول خروج الإنزال وينعها أو تقدير السماء/والأرض, أو تسير الشمس والقمر والنجم؛ لذلك لزم القول بالواحد. ب. الصفات الإلهية ذكر الماتريدي أن الله سبحانه وتعالى يتصف ما وصف به نفسه من العلم والحياة, والسمع والبصر والقدرة. وهو موصوف بها لذاته. وأما إثبات الصفات ودليله عنده السمع وهو ماجاء به القرآن وسائر الكتب السماوية وما ذكره الرسل, والقول بنفيها على أساس أنها توجب الشبيه والتعطيل, إذ أن إثبات الاسم لا يعني التشابة بينه وبين المسمى, والله مسمى بما سمي به نفسه موصوف بما وصف به نفسه. ويدل الماتريدي على أن إثبات الصفات و الأسماء لايعني التشابه لاختلاف ما فى الخلق عنه, فوجوده مخلف لوجود الخلق وأزليته مخالفة لحدوث الخلق. ويركز الماتريدي على إثبات مغايرة صفات الله لصفات المخلوقين وليس لصفات الله تعالى كيف ولا يجوز السؤال عن كيفية صفاته لأن السؤال عن الكيفية يحتمل وجهين, أحدهما: طلب المثال له أن يكون مثلا لشيء من الأشياء والله واحد يجل عن الأشياء. والثاني: يحتمل كيف صفته؟ فجوابه مثل الأول أنه ليس لصفته كيف, إذ هو طلب المثال وهو يتعالى عن الشبهة بالذات والصفة. ج. العدالة الإلهية ويرى الماتريدي أن معنى العدل في الله وضع الشيء موضعه, وهذا يعني الإصابة في الأمور وهذا معنى الحكمة, والماتريدي يوجد بين معنى العدل ومعنى الحكمة وهها ليسا واجبان على الله, إذ في الحكمة كما يقول طريقان, أحدهما العدل, والثاني الفضل ,وليس لما يقدر على الله من الأفضل نهاية, فيتكلم في الشيء بأفضل ما يبلغ قوته من الفعل, مع ما ليس عليه الأفضل وغير جائز خروجه مثله عن الحكمة لما ذكرت, وكذالك معنى العدل أنه وضع كل شيء في موضعه, لكن له درجات, يوصف فعل بعضها إحسانا وأفضالا وفعل بعضها عدلا وحكمة, إذ هما اسمان عامان لكل ما للفعل فعله, والأول خاص من حيث كان له كان تركه فسيفعله منعما محسنا. ولذلك يقول أيضا الماتريدي لا يجوز أن يوصف الله بالظلم فوجود الآلام وما يحل بالأطفال من آلام ليس ظلما لهم لكن ليعلم أن الصحة والعافية أفضال من الله تعالى لهم لا لحق عليه إذ له أن يخلق كيف شاء صحيحا وسقيما. ويري الماتريدي أن العدل ليس هو ضد الظلم, لأن لكل منهما بيان خاص. وقد استدل على ذالك بقوله تعالى: قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللّهَ حَرَّمَ هَـذَا فَإِن شَهِدُواْ فَلاَ تَشْهَدْ مَعَهُمْ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَهُم بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ, فليس العدل في تلك الآية بمعنى ضد الجور ولكن هي تدل على وجود التسوية بين ربهم وبين الأصنام في العبادة, ولكن ليس معنى هذا أن الماتريدي يرفض تعريف الظلم بأنه وضع الشيء في غير موضعه وهو التعريف المنافي للعدل, ولقد أكد ذلك التعريف للظلم وذكره مع تعريفات أخرى للظلم فقال: &#8220;إن كل فعل يستوجب به الفعل عقوبته فهو ظلم وقيل إذ كل فعل لا يؤذن له فهو ظلم, قيل أن الظلم هو وضع الشيء لغير مو ضعه.&#8221; ويذكر تعريفا آخر للظلم وهو فعل ماليس له واختياره غير الذي لا هو الذي يزجره العقل والشرع. ومعني آخر في شرحه لقوله تعالى: وَعَلَى الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا مَا قَصَصْن</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=248&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/08/%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a7%d8%aa%d8%b1%d9%8a%d8%af%d9%8a-%d9%88%d8%a2%d8%b1%d8%a7%d8%a4%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%83%d9%84%d8%a7%d9%85%d9%8a%d8%a9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HERMENEUTIKA-KONTEKTUALITAS  SEBAGAI GAGASAN PENAFSIRAN  ABDULLAH SAEED</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/08/hermeneutika-kontektualitas-sebagai-gagasan-penafsiran-abdullah-saeed/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/08/hermeneutika-kontektualitas-sebagai-gagasan-penafsiran-abdullah-saeed/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 15:13:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[semester dua]]></category>
		<category><![CDATA[abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[abdullah saeed]]></category>
		<category><![CDATA[islamic banking and finance]]></category>
		<category><![CDATA[saeed]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[A.    Pendahuluuan Kajian terhadap penafsiran al-Qur’an dari segi metodologinya telah banyak dilakukan untuk menggali kembali pemahaman serta kemungkinan makna-makana yang terkandung di dalamnya. Usaha-usaha untuk memahami segi kebenaran al-Qur’an  dalam sejarahnya telah sejak lama mengalami proses pergumulan intelektual yang cukup serius, walaupun bisa diambil pemahaman bahwa pergulatan tersebut muncul hanya sampai pada bagian persepsi atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=241&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.    </strong><strong>Pendahuluuan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kajian terhadap penafsiran al-Qur’an dari segi metodologinya telah banyak dilakukan untuk menggali kembali pemahaman serta kemungkinan makna-makana yang terkandung di dalamnya. Usaha-usaha untuk memahami segi kebenaran al-Qur’an  dalam sejarahnya telah sejak lama mengalami proses pergumulan intelektual yang cukup serius, walaupun bisa diambil pemahaman bahwa pergulatan tersebut muncul hanya sampai pada bagian persepsi atau pada sisi metodologis dan hasil pemahamannya, bukan pada meragukan akan kebenaran al Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah saeed merupakan salah satu pemikir yang menteorikan tentang sisi metodologis studi al Qur’an dalam beberapa cetusan idenya. Kontektualisasi pemahaman penafsiran dan pengaplikasiannya merupakan sasaran tujuan ide dari Abdullah Saeed. Berikut sajian makalah yang akan memberikan uraian terhadap gambaran Abdullah Saeed dalam langkah hermeneutika-kontektualisasi penafsiran al-Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>B.     </strong><strong>Riwayat Akademik Abdullah Saeed</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut adalah perjalanan akademik Abdullah Saeed yang dilahirkan di Maladewa. Abdullah Saeed aktif sebagai dosen di Universitas ini dan menjadi pengampu mata kuliah Studi Islam diantara pelajarannya adalah Great Texts of Islam: Qur&#8217;an; Muslim Intellectuals and Modernity, Great Empires of Islamic Civilization, Islamic Banking and Finance, Qur&#8217;anic Hermeneutics, Methodologies of Hadith, Methods of Islamic Law, Religious Freedom in Asia, Islam and Human Rights, and Islam and Muslims in Australia.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mendapatkan gelar BA dalam studi Islam di Arab Saudi pada tahun 1986</li>
<li>Mendapatkan gelar Master of Art di Universitas Melbourne pada tahun 1993, dan menjadi professor pada tahun 2003 di Universitas yang sama.</li>
<li>Mendapatkan beasiswa di Arab Saudi, Pakistan dikombinasikan dengan pelatihan pascasarjana di Arab, Studi Islam di Australia.</li>
<li>Memiliki kemampuan dalam berbagai disiplin ilmu Arab dan termasuk di dalamnya disiplin ilmu Islam: Dari bahasa Arab dan sastra Qur’an, penafsiran, hukum Islam, sejarah Islam untuk pemikiran Islam modern (termasuk bidang-bidang seperti hak asasi manusia dan keuangan Islam) serta Islam di Barat.</li>
<li>Pengalaman yang luas dalam mengajar bahasa Arab, Studi Asia di tingkat sarjana dan pascasarjana.</li>
<li>Fasih berbahasa Inggris dan dua bahasa besar Islam: Arab dan Urdu, dan merupakan penutur asli bahasa Maladewa.</li>
<li>Menunjukkan kemampuan untuk membuat kontribusi yang signifikan terhadap beberapa daerah di pemikiran Arab / Islam modern.</li>
<li>Penelitian dan publikasi kepentingan di beberapa daerah yang menarik perhatian dalam periode modern</li>
<li>Pengalaman yang luas dalam penggunaan teknologi informasi dalam desain dan pengembangan kursus di Arab / Studi Islam.</li>
<li>Track rekor dalam mengembangkan Program Studi Islam dari di Universitas Melbourne yang juga salah satu universitas riset paling intensif di Australia.</li>
<li>Dianggap menjadi salah satu pemikir Muslim terkemuka yang berbasis di Barat</li>
<li>Kontributor untuk debat publik tentang Islam di Barat / Australia.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>C.    </strong><strong>Karya-Karya Abdullah Saeed</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa karya yang dihasilkan oleh Abdullah saeed adalah: <em>Approaches to Qur’an in Contemporary Indonesia</em> (2005), <em>Freedom of  Relegion, Apostasy and Islam </em> (2004), <em>Islam In Australia</em> (2003), <em>Islam and Political Legitimacy</em> (2003) <em>Islamic Banking and Interest</em> (1999).Interpreting the Qur’an, toward a contemporary approach (2006).<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>D.    </strong><strong>Pemahaman Teks Al Qur’an Dalam Pandangan Abdullah Saeed</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah Saeed memberikan beberapa ragam gambaran pemahaman terhadap penafsiran al Qur’an yang dimanifestasikannya dalam beberapa terminologi yang masing-masing mempunyai ciri tersendiri dan juga memiliki arah pemahaman yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dari beberapa pendekatan pemahaman yang diberikan oleh Abdullah Saeed, antara satu pemahaman dengan pemahaman yang lainnya memeiliki diferensiasi yang tidak mempertemukan masing-masing pemikiran ini.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tektualis</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Abdullah saeed menyatakan bahwa kelompok tekstualis meyakini bahwa makna al Qur’an itu sudah fixed dan harus diaplikasikan secara universal. Kelompok salafi termasuk penganut tipologi ini. Yang dimasukkan sebagai bagian dari penganut tipologi ini adalah mereka yang dimasukkan dalam kategori salafi.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Semi tektualis</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pemikiran semi-tektualis dianggap berusaha membela makna literal al Qur’an dengan cara menggunakan idiom-idiom modern serta memakai argumentasi yang rasional. Dikategorikan dalam kelompok ini adalah al-ikhwan al-Muslimin di Negara Mesir dan juga jama’at Islami di Negara India.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kontektualis</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kelompok ini memposisikan diri berada dalam golongan yang mendorong pada pemahaman al-Qur’an dengan tidak mengesampingkan konteks politik, sosial, kesejarahan, budaya serta termasuk di dalamnya adalah ekonomi, di mana al Qur’an diturunkan, dipahami serta sesudahnya diaplikasikan. Tipologi seperti ini merupakan tipologi yang juga diikuti oleh Fazlurrahman, Nasr Hamid Abu Zayd dan tentunya oleh Abdullah Saeed sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>E.     </strong><strong>Landasan Teoritis Abdullah Saeed Dalam Penafsiran Kontekstual.</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Adanya keterkaitan antara wahyu dan konteks sosio-historis yang mengitarinya. yang menunjukkan bahwa wahyu harus dipahami dalam konteks sosio-historis tersebut.</li>
<li>Fenomena fleksibilitas dalam cara membaca al-Qur&#8217;an (sab&#8217;ah ahruf) dan pengubahan hukum mengikuti situasi dan kondisi yang baru (naskh) yang menunjukkan bahwa al-Qur&#8217;an, sejak awal pewahyuannya, telah berdialektika secara aktif dengan audien pertamanya. Fenomena ini menginspirasikan hal yang sama untuk masa-masa berikutnya.</li>
<li>Kondisi al-Qur&#8217;an yang secara internal (ayat-ayat teologis, kisah, dan perumpamaan) tidak dapat dipahami dengan pendekatan tekstual ansih.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>F.     </strong><strong>Prinsip-prinsip Epistemologis Hermeneutika Kontekstual Abdullah Saeed.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1)      Mengakui kompleksitas makna.</p>
<p style="text-align:justify;">2)      Memperhatikan konteks sosio-historis penafsiran. Karena al-Qur&#8217;an turun dalam dan berdialektika dengan konteks sosio-historis pada masanya maka ia harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam penafsiran.</p>
<p style="text-align:justify;">3)      Merumuskan hirarki nilai bagi ayat-ayat ethico-legal untuk menentukan mana yang berubah dan mana yang tetap.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>G.    </strong><strong>Prinsip-prinsip Empat Tahap Kerangka Kerja Penafsiran Abdullah Saeed.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1)      Bertemu dengan dunia teks</p>
<p style="text-align:justify;">2)      Melakukan analisis kritis.</p>
<p style="text-align:justify;">3)      Menemukan makna teks bagi penerima pertamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">4)      Menentukan makna dan aplikasi teks bagi masa kini. Hermeneutika kontekstual memberikan sumbangsih yang berarti bagi hermeneutika al-Qur&#8217;an Fazlur Rahman terutama melalui perumusan hirarki nilai. Bagi hermeneutika al- Qur&#8217;an secara umum, dengan aksentuasi dan orientasinya yang berbeda, hermeneutika kontekstual telah memberikan sumbangan baru bagi metodologi penafsiran al-Qur&#8217;an khususnya kontemporer.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>H.    </strong><strong>Keterpengaruhan Abdullah Saeed Oleh Pemikiran Fazlurrahman.<a title="" href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode penafsiran al-Qur&#8217;an Fazlur Rahman adalah proses penafsiran al-Qur&#8217;an yang bermuara pada suatu gerakan ganda (double movement); dari situasi kontemporer menuju era al-Qur&#8217;an diturunkan, lalu kembali lagi ke masa sekarang dan metode penafsiran al-Qur&#8217;an Abdullah Saeed adalah proses penafsiran al-Qur&#8217;an yang bermuara pada metode kontekstual, yang cara kerjanya sama dengan metode double movement-nya Fazlur Rahman</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa indikasi dan bentuk keterpengaruhan Saeed atas ide-ide Rahman:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Saeed pernah menulis sebuah artikel yang membahas tentang kerangka penafsiran al-Qur&#8217;an yang ditawarkan oleh Rahman;</li>
<li>Adanya kemiripan pandangan tentang dunia al-Qur&#8217;an:</li>
<li>Adanya kemiripan dalam model interpretasi al-Qur&#8217;an, yakni teori gerakan ganda (double movement)-nya Rahman dan kontekstual (contextual)-nya Saeed;</li>
<li>Adanya pernyataan-pernyataan yang diberikan Saeed dalam karya-karyanya bahwa inovasi metodologi penafsiran yang dikenalkan oleh Rahman telah memberikan kontribusi penting dan sangat berkaitan dengan pembahasan yang dia tawarkan dalam metode penafsirannya terhadap konten ethico-legal al-Qur&#8217;an.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>I.       </strong><strong>Model tawaran penafsiran Fazlurrahman dan Abdullah saeed</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam memberikan penafsiran, fazlurrahman sudah luas dikenal dengan teori gerakan ganda (double movement), dimana tercakup dalam penjabaran teori ini, rahman berkeyakinan bahwa sebuah pemahaman dan ilmu pengetahuan tidaklah memiliki sebuah ketetapan atau hasil akhir yang sudah final.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Fazlurrahman corak penafsiran yang diwarisi dari tradisi keislaman zaman klasik telah gagal memaparkan pesan-pesan al-Qur’an secara pada dan koheren.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibat dari kaidah menafsirkan al-Qur’an ayat demi ayat, serta kecenderungan terhadap penggunaan ayat-ayat al-Qur’an secara atomistic, para mufassir dan umat Islam pada umumnya tidak dapat menangkap keterpaduan pesan al-Qur’an yang dilandaskan pada suatu pandangan dunia yang pasti.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>J.      </strong><strong>Sumbangan Saeed bagi metode penafsiran Fazlur Rahman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun beberapa hal yang bisa dianggap sebagai Sumbangan Saeed yang paling berarti bagi metode penafsiran al-Qur&#8217;an Rahman adalah rumusan hirarki nilai-nilainya, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Nilai-nilai yang bersifat wajib (obligatory values);</li>
<li>Nilai-nilai fundamental (fundamental values);</li>
<li>Nilai-nilai proteksional (protectional values);</li>
<li>Nilai-nilai implementasional (implementational values);</li>
<li>Nilai-nilai instruksional (instructional values).<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>K.    </strong><strong>Validitas Tafsir Bi Al-Ra’y Dalam Pandangan Abdullah Saeed</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada titik ini layak melihat bentuk tafsir berdasarkan alasan bahwa ada beberapa hal yang oleh kaum muslim dianggap bermasalah. Yang pertama adalah interpretasi dari teks hanya dengan mengandalkan pendapat pribadi dan tanpa memperhatikan bukti-bukti linguistik, sejarah atau kontekstual. ini dapat terjadi dalam beberapa cara. Satu, adalah ketika penafsir mengenakan pada teks makna yang kurang jelas, sehingga menolak arti yang paling jelas dan relevan. Dalam interpretasi, arti yang paling jelas dari teks ini memiliki tempat penting dan biasanya tidak harus dibuang dalam mendukung lainnya tanpa alasan yang sah atau bukti.</p>
<p style="text-align:justify;">Bentuk kedua adalah ketika makna dikenakan pada teks untuk alasan pribadi atau tujuan. jika penafsir mencari pembenaran untuk pandangan tertentu, ia dapat memberikan pada teks sebuah arti yang sesuai dengan tujuan pribadi. misalnya, jika subjeknya adalah hak para perempuan dan penafsir ingin membenarkan posisi tertentu pada monogami, misalnya, ia dapat membaca ke dalam ayat Al qur’an, memberikan makna tertentu yang diinginkan, sekali lagi mengabaikan segala bentuk bukti lainnya yang tersedia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga  adalah di mana teks memiliki dua atau lebih makna dan memilih satu arti tanpa memperhatikan konteks dan teks-teks Alquran lain yang tersedia. contoh adalah ayat yang mengatakan bahwa muslim tidak boleh menempatkan diri mereka di jalan bahaya (la tulqu  bi aydikum ila At-tahlukah). jika teks itu diartikan bahwa muslim tidak harus bertindak dalam situasi apa pun di mana ada potensi bahaya, ini akan bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an banyak yang menekankan nilai-nilai seperti berusaha ditafsirkan tidak hanya dengan melihat teks itu sendiri tetapi juga dengan menghubungkannya dengan perintah-perintah Al-Quran lainnya dan prinsip-prinsipnya.</p>
<p style="text-align:justify;">keempat terjadi ketika individu memiliki gagasan sebelumnya dan bermaksud untuk mendukung ide bahwa dengan memilih teks Alquran. dalam kasus seperti orang itu memaksakan makna khusus pada teks daripada mencari arti yang paling sah. contoh penafsiran seperti banyak di contohkan pada buku-buku, dengan berbagai interpretasi teologis cocok dalam kategori ini. Interpretasi tertentu dengan teolog <em>mutazili</em>, seperti <em>Zamakhshari</em>, atau beberapa makna esotoric dikemukakan oleh ulama syi’ah (dikenal sebagai  batinis) adalah contoh. para sarjana ini terakhir menafsirkan istilah <em>bahrayn</em> (dua badan air) di dia telah membiarkan dua badan yang mengalir air (bahrayn) pertemuan bersama (Q.55: 19) sebagai Ali dan Fatimah. Mereka juga ditafsirkan AL-Lu&#8217;lu (Mutiara) dan al-Marjan (karang) di luar mereka (dua badan air) datang dan karang mutiara (Q: 55:22) sebagai Hasan dan Husain, cucu dari nabi dan dua Imam Syi&#8217;ah</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh-contoh dari tafsir berdasarkan <em>ra’y</em> dapat dimasukkan dalam kategori tidak dapat diterima karena mereka tidak mencoba untuk melihat arti keseluruhan teks Al-Quran atau untuk menjelajahi makna dan prinsip-prinsip yang terkait, baik linguistik, sejarah, sosial, budaya, moral, etika atau hukum. Interpretasi ini adalah produk dari imajinasi penerjemah. Interpretasi untuk tingkat substansial bersifat pribadi, terlepas dari apa yang diketahui dari alat aktual dan mekanisme. Ada dimensi subjektif untuk setiap interpretasi hanya karena pengalaman dari mereka yang terlibat dalam penafsiran yang unik. Ini tidak harus mengarahkan kita untuk menunjukkan bahwa, karena subjektivitas, tafsir berdasarkan <em>ra’y</em> harus dikeluarkan dari bidang tafsir yang valid atau bisa diterima.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita tidak dapat menyangkal bahwa banyak literature tafsir yang kita miliki saat ini sebagian besar didasarkan pada <em>ra’y</em>. Jika tafsir harus didasarkan sepenuhnya pada tradisi, maka akan ada pembacaan yang kering dalam membaca ayat al Qur’an yang diperjelas oleh hadits penjelas atau laporan dari para sahabat yang ditelusuri kembali sampai kepada Nabi. Dengan menerima pandangan ini, berarti menolak banyak literatur tafsir. Mungkin karena alasan inilah Ibnu Taimiyah, meskipun berdiri di atas tafsir yang didasarkan pada tradisi, harus mengakui bahwa tafsir berdasarkan pengetahuan tentang subjek dan bukan bukti tekstual bertentangan harus dipertimbangkan kembali.Top of Form</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kecenderungan tradisi tafsir secara keseluruhan adalah untuk menampung sebanyak mungkin arti berdasarkan tradisi yang didasarkan pada akal. Meskipun ini bersifat inklusif, ketika datang ke isi hukum etik dalam al Qur’an ada hampir setiap variasi dalam tafsir di seluruh ruang pembelajaran hukum. Secara keseluruhan, semua menafsirkannya dalam kerangka tekstualis. Konsistensi ini dapat dijelaskan sebagian oleh kenyataan bahwa dasar-dasar fiqih dan aturan yang terkait dengan masalah etika hukum yang disepakati pada awal sejarah Islam dan diberi finalitas yang tak tertandingi selama berabad-abad.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Ali As-Shabuni dalam “<em>At Tibyan fii ulumil Quran</em>”, yang dimaksud Tafsir Bi ar Ra’yi, bukan berarti menafsirkan Al qur’an sesuai dengan pendapatnya mufasir, akan tetapi yang yang dimaksud Tafsir bi ar Ra’yi adalah ijtihad berdasarkan ushul yang shahih, kaidah-kaidah yang selamat, wajib mengambil mutiara-mutiara yang dimaksud di dalam tafsir Alquran, atau maksud dari penjelasan makna-makna. Jadi bukan menafsirkan Alquran berdasarkan pendapatnya semata atau hawa nafsunya semata. Bahkan banyak sekali hadis yang mengingatkan, kita tidak boleh main-main dengan penafsiran Alquran. Sekalipun penafsiran yang muncul itu ternyata benar, maka ini tetap dinilai sebagai suatu kesalahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ancaman bagi orang-orang yang menafsirkan Alquran dengan pendapatnya sendiri adalah neraka. Sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang berbicara mengenai Al-qur’an sesuai dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah bersiap-siap mengambil tempatnya di neraka”. Ancaman ini tentunya tidak main-main, karena melibatkan murni hanya ro’yu saja akan mempunyai peluang besar jatuh dalam pemahaman yang salah karena tidak ada bimbingan yang benar di dalam cara memahaminya <a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>L.     </strong><strong>Macam-Macam Kelompok Pemikir Menurut Abdullah Saeed</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah Saeed memberikan pemisahan serta pembedaan terhadap kelompok-kelompok pemikir menjadi enam kelompok pemikir:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>The legalist-traditionalist, yang titik tekannya adalah pada hukum-hukum yang dikembangkan dan ditafsirkan oleh para ulama periode pra modern;</li>
<li>The theological puritans, yang fokus pemikirannya adalah pada dimensi etika dan doktrin Islam;</li>
<li>The political Islamists, yang kecenderungan pemikirannya adalah pada aspek politik Islam dengan tujuan akhir mendirikan negara Islam;</li>
<li>The Islamist Extremists, yang memiliki kecenderungan menggunakan kekerasan untuk melawan setiap individu dan kelompok yang dianggapnya sebagai lawan baik muslim ataupun non-muslim;</li>
<li>The Secular Muslims, yang beranggapan bahwa agama merupakan urusan pribadi (private matter);</li>
<li>The progressive ijtihadists, yaitu para pemikir modern atas agama yang berupaya menafsir ulang ajaran agama agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat modern. Pada katagori yang terakhir inilah posisi muslim progresif.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>M.   </strong><strong>Perlukah Menafsirkan Al-Qur’an Secara Hermeneutika?</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah penafsiran umum merupakan problema dasar yang diteliti oleh hermeneutika, baik berupa teks historis maupun teks keagamaan. Maka dari itu, hal yang ingin dicarikan solusinya merupakan persoalan yang sedemikian banyak lagi kompleks yang terjalin di sekitar watak dasar teks dan hubungannya dengan <em>al-turots</em> (tradisional) pada satu sisinya.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a> Titik pangkal yang merupakan persoalan serius bagi filsafat hermeneutik adalah terletak pada konsentrasi atas hubungan mufassir dengan teks.</p>
<p style="text-align:justify;">Umat Islam dalam upayanya memahami segi-segi kebenaran al-Qur’an sudah sejak lama mengalami pergulatan intelektual yang sangat serius; walaupun dapat dikatakan pergulatan tersebut muncul pada tataran persepsi atau pada aspek metodologis pemahamannya serta pada hasil pemahamannya, Bukan pada kesangsian akan kebenaran al-Qur’an itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Upaya memahami dan menafsirkan al-Qur’an pada dasarnya telah berjalan sejak generasi pertama Islam, bahkan pada tahap tertentu dapat dikatakan Nabi Muhammad sendiri telah melakukan upaya yang sama meskipun tidak dapat dikatakan demikian. Meskipun setiap muslim yakin bahwa ia tidak mungkin salah dalam memahami atau menafsirkannya, karena Allah selalu mengonytol fikiran dan perkataannya. Pada perkembangan berikutnya, cara untuk memahami serta menafsirkan al-Qur’an ini dibakukan dalam satu disiplin ilmu tertentu yang kemudian sekarang kita kenal sebagai ilmu tafsir.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai langkah usaha untuk memahami dan menerangkan maksud ayat-ayat suci al-Qur’an, almu tafsir al-Qur’an telah banyak memunculkan karya-karya besar penafsiran. Seiring dengan tuntutan zaman, dinamika kegiatan penafsiran tersebut pun berkembang. Latar belakang individu serta kelompok manusia bahkan turut pula memperkaya hasil tafsir dan metode pendekatan memahami al-Qur’an dengan segala kelebihan serta kekurangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Teori dan konsep tentang bagaimana sebaiknya al-Qur’an ditafsirkan dan difahami telah banyak bermunculan. Di anatara tema yang sering menjadi bahan diskusi dan berkembang dalam dunia tafsir dan ilmu tafsir adalah bagaimana memahami al-Qur’an secara kontekstual atau dengan bahasa lain, bagaimana membumikan al-Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahaman terhadap al-Qur’an yang kontekstual merupakan kebutuhan umat Islam yang merujuk kepada al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan. Sedang di fihak lain, tafsir yang kontekstual itu tentunya akan menjadi bukti bahwasannya al-Qur’an memang merupakan petunjuk yang final dan bisa dioperasionalkan dalam berbagai ruang dan waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapapun ideal kontekstualisasi al-Qur’an tidaklah begitu saja mudah untuk dilaksanakan, akan tetapi usaha guna ke arah sana telah berlangsung telah sejak lama. Banyaknya kemunculan kitab tafsir al-Qur’an dengan tokoh dan cirri khasnya masing-masing dalam khazanah kepustakaan muslim, yang berusaha untuk memahami al-Qur’an secara kontekstual dalam arti menjawab persoalan-persoalan yang muncul pada zaman ketika tafsir tersebut disusun secara operasional dan fungsional merupakan bukti akan hal itu.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Sealur dengan kebutuhan dan tantangan akan suatu metode penafsiran yang bercorak kontekstual sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, dalam dunia filsafat telah berkembang satu “metode penafsiran” yang dipandang cukup representative dan komprehensif untuk mengelola teks serta secara intensif dalam menggarap kontektualisasi. Maka dengan refleksi radikal dan analisa sistimatisnya, tidak heran apabila kemudian “metode penafsiran” ini oleh kalangan tertentu dianggap memiliki akurasi dan validitas yang tinggi ketika mengelola teks, dan metode ini biasa dikenal sebagai hermeneutika.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada prinsipnya hermeneutika merupakan suatu metode atau cara guna menafsirkan symbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya, yang mana metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ditinjau dari sisi epistemology, sumber dari hermeneutika adalah akal semata, oleh karena itu hermeneutika memuat <em>dzon </em>(dugaan), <em>syak </em>(keraguan), <em>mira’ </em>(asumsi). Adapun sumber epistemology tafsir adalah al-Qur’an, disebabkan hal tersebut maka tafsir terikat dengan ajaran yang telah disampaikan dan dijelaskan oleh Rasulullah saw.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>N.    </strong><strong>Analisa</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kontektualisasi penafsiran al-Qur’an merupakan sesuatu yang pada dasarnya niscaya sebagai kebutuhan yang memang diperlukan oleh kaum muslim. Namun dengan model pemaksaan makna terhdapnya maka justru akan menghasilkan suatu produk yang kontra produktif dengan harapan dapat diterimanya al-Qur’an sebagai <em>Sholih Likulli zaman wa Makan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang dilakukan oleh Abdullah Saeed pun akan bernasib demikian jika tidak mengambil acuan pada penafsiran al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah mapan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh para peletak fondasi penafsiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Menganalisa dan selanjutnya menafsirkan al-Qur’an dengan mengandalkan pada metode hermeneutika merupakan sebuah langkah yang lari dari kenyataan apabila tetap memaksakan metodologi yang mengusung spirit prasangka dan meragukan ini. Hermeneutika yang diterapkan kepada al-QUr’an yang merupakan wahyu dan secara sejarah belum pernah ada pemalsuan yang berhasil terhadapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>O.    </strong><strong>Penutup</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berpijak dari ide utama Abdullah Saeed terhadap penafsiran al-Qur’an, pada dasarnya apa yang hendak ia capai adalah menjadikan al-Qu’ran sebagai <em>Sholih likulli zaman wa makan</em> dengan membumikan atau mengkontektualisasikan penafsirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun langkah hermeneutis yang ditempuh Abdullah Saeed jika hanya berpijak pada pendasaran hermeneutik semata, maka hal ini tertolak dalam hal menajdi bagian dalam metode penafsiran, karena penafsiran pada dasarnya memiliki sisi epistemology yang membedai dengan hermeneutik.</p>
<p style="text-align:justify;">Hermeneutik bertumpu pada desakralisasi semua teks, <em>syak </em>(keraguan), <em>mira’ </em>(asumsi), dan <em>dzon </em>(dugaan).  Sedang tafsir itu sendiri sumber epitemologinya adalah wahyu al-Qur’an. Oleh karena itu tafsir terikat dengan ajaran yang telah disampaikan dan dijelaskan oleh Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Buku:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Abdullah Saeed (ed), <em>Approaches to the Qur’an in Contemporary Indonesia, </em>(London University Press and The Institute of Ismaili Studies, 2005)</p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah Saeed, <em>Interpreting the Qur’an Toward a Contemporaray Approach</em> (Routledge taylor and Francis, New York: 2006)</p>
<p style="text-align:justify;">Fazlur rahman, <em>Islam and Modernity</em> (Chichago and London: University of Chichago Press, 1982)</p>
<p style="text-align:justify;">Ilham B. Saenong, <em>Hermeneutika Pembebasan, </em>(Jakarta: Teraju, 2002)</p>
<p style="text-align:justify;">Muchib Aman Ali, <em>“Apakah Al-QUr’an Memerlukan Hermeneutika?” </em>dalam <em>Solusi Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas dan Kombes NU 1926-2004 N, </em>(Surabaya; Diantama, 2006)</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Husein al-Zahaby, <em>al-Tafsir Wal Mufassirun, </em>juz II, (Beirut: Darul Fikr, 1986)</p>
<p style="text-align:justify;">Sudarto, <em>Metodologi Penelitian Filsafat, </em>(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Web:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">http://www.asiainstitute.unimelb.edu.au/people/staff/saeed.html</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">http://mulyadinurdin.wordpress.com/2010/11/02/menyoal-tafsir-kontekstual-catatan-untuk-nurjanah-ismail/</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&amp;op=read&amp;id=digilib-uinsuka&#8211;suhermanni-4991</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;" align="center">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> http://www.asiainstitute.unimelb.edu.au/people/staff/saeed.html</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Abdullah Saeed (ed), <em>Approaches to the Qur’an in Contemporary Indonesia, </em>(London University Press and The Institute of Ismaili Studies. 2005), Back Cover.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ibid,</em>  hal. 3-4.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ia lahir di Barat Pakistan, 21 September 1919. Meraih M.A. dari Universitas Punjab, Lahore, dalam Bahasa Arab. Sedang gelar Doktor diraihnya di Oxford University, tentang Psikologi Ibn Sina. Ia merupakan dosen di Studi Persia dan Filsafat Islam di Universitas Durham, Inggris pada tahun 1950-1958, asisten Profesor di Institut Studi Islam, Universitas McGill, Montreal pada tahun 1958-1961, Profesor tamu di Central Institute of Islamic Research, Pakistan, tahun 1961-1962 dan Direktur pada tahun 1962-1968, Profesor tamu di U.C.L.A. 1969, dan Profesor di Universitas Chicago, tahun 1969.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Fazlur rahman, <em>Islam and Modernity</em> (Chichago and London: University of Chichago Press, 1982), hal. 2-3.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&amp;op=read&amp;id=digilib-uinsuka&#8211;suhermanni-4991</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Abdullah Saeed, <em>Interpreting the Qur’an Toward a Contemporaray Approach</em> (Routledge taylor and Francis, New York: 2006) hal. 66-68.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> http://mulyadinurdin.wordpress.com/2010/11/02/menyoal-tafsir-kontekstual-catatan-untuk-nurjanah-ismail</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Abdullah Saeed, <em>Interpreting The Qur’an, toward a Contemporary Approach</em> (Routledge Taylor and Francis Group: London and New York, 2006) 66-68.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Ilham B. Saenong, <em>Hermeneutika Pembebasan, </em>(Jakarta: Teraju, 2002), hal. 52.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Muhammad Husein al-Zahaby, <em>al-Tafsir Wal Mufassirun, </em>juz II, (Beirut: Darul Fikr, 1986), hal. 457.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Sudarto, <em>Metodologi Penelitian Filsafat, </em>(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 85.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Muchib Aman Ali, <em>“Apakah Al-QUr’an Memerlukan Hermeneutika?” </em>dalam <em>Solusi Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas dan Kombes NU 1926-2004 N, </em>(Surabaya; Diantama, 2006), hal. 763-764.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=241&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2012/01/08/hermeneutika-kontektualitas-sebagai-gagasan-penafsiran-abdullah-saeed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A l-F a t i h a h, Surat ke 1 : 7 ayat, Juz 1</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/18/a-l-f-a-t-i-h-a-h-surat-ke-1-7-ayat-juz-1/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/18/a-l-f-a-t-i-h-a-h-surat-ke-1-7-ayat-juz-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 09:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teks al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[ســـــــــــــــــــورة الفاتحة    بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=233&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" dir="RTL" align="center">ســـــــــــــــــــورة الفاتحة    بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=233&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/18/a-l-f-a-t-i-h-a-h-surat-ke-1-7-ayat-juz-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadwal Hari Libur dan Cuti Bersama 2012</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/18/jadwal-hari-libur-dan-cuti-bersama-2012/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/18/jadwal-hari-libur-dan-cuti-bersama-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 04:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan surat keputusan bersama tiga menteri, berikut ini adalah daftar hari libur dan cuti bersama untuk 2012. Mudah-mudahan bisa membantu Anda merencanakan liburan. Terdapat 14 hari libur nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja, dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sedangkan jumlah cuti bersama 2012 berjumlah lima — lebih banyak ketimbang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=225&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berdasarkan surat keputusan bersama tiga menteri, berikut ini adalah daftar hari libur dan cuti bersama untuk 2012. Mudah-mudahan bisa membantu Anda merencanakan liburan.</p>
<p>Terdapat 14 hari libur nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja, dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sedangkan jumlah cuti bersama 2012 berjumlah lima — lebih banyak ketimbang cuti bersama 2011 yang hanya empat.</p>
<p>&#8220;Ada masukan dari lembaga keagamaan tentang perlunya penambahan jumlah cuti bersama. Cuti bersama juga berkontribusi terhadap peningkatan kunjungan wisatawan,&#8221; jelas Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono yang hadir saat penandatanganan surat keputusan bersama.</p>
<p>Januari<br />
Minggu, 1 Januari: Tahun Baru<br />
Senin 23 Januari: Tahun Baru Imlek 2563</p>
<p>Februari<br />
Minggu, 5 Februari: Maulid Nabi SAW</p>
<p>Maret<br />
Jumat, 23 Maret: Nyepi Tahun Baru Saka 1934)</p>
<p>April<br />
Jumat, 6 April: Wafat Yesus Kristus</p>
<p>Mei<br />
Minggu, 6 Mei: Waisak 2556<br />
Kamis, 17 Mei: Kenaikan Yesus Kristus<br />
Jumat, 18 Mei: Cuti bersama kenaikan Yesus Kristus</p>
<p>Juni<br />
Minggu, 17 Juni: Isra&#8217; Mi&#8217;raj Nabi Muhammad SAW</p>
<p>Agustus<br />
Jumat, 17 Agustus: Hari Kemerdekaan RI<br />
Minggu dan Senin, 19 dan 20 Agustus: Idul Fitri 1433H<br />
Selasa dan Rabu, 21 dan 22 Agustus: Cuti bersama Idul Fitri 1433H</p>
<p>Oktober<br />
Jumat, 26 Oktober: Idul Adha 1433H</p>
<p>November<br />
Kamis, 15 November: Tahun Baru 1434H<br />
Jumat, 16 November: Cuti bersama Tahun Baru 1434H</p>
<p>Desember<br />
Senin, 24 Desember: Cuti bersama Natal<br />
Selasa, 25 Desember: Natal</p>
<p>http://id.berita.yahoo.com/blogs/rumah/jadwal-hari-libur-dan-cuti-bersama-2012-060836606.html#more-id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=225&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/18/jadwal-hari-libur-dan-cuti-bersama-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kajian Jum&#8217;at Malam S1</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/17/kajian-jumat-malam-s1/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/17/kajian-jumat-malam-s1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 14:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Sepucuk surat dalam keadaan terlipat dan berstaples kuambil saat kebetulan main ke kamar Sdr. Ervan. Surat itu kuambil sebab tertera namaku di bagian tujuan kepadanya. Surat bertanggal 17 Muharram 1433 H/13 Desember 2011 tersebut berisi permohonan untuk menjadi Peninjau dan Pengoreksi pada acara Kajian Jum’at Malam yang diselenggarakan oleh Departemen Keilmuan dan Kerohanian Institut. Isi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=227&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sepucuk surat dalam keadaan terlipat dan berstaples kuambil saat kebetulan main ke kamar Sdr. Ervan. Surat itu kuambil sebab tertera namaku di bagian tujuan kepadanya. Surat bertanggal 17 Muharram 1433 H/13 Desember 2011 tersebut berisi permohonan untuk menjadi <em>Peninjau dan Pengoreksi</em> pada acara <em>Kajian Jum’at Malam</em> yang diselenggarakan oleh Departemen Keilmuan dan Kerohanian Institut<em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Isi permintaan sebagaimana tertera dalam surat sudah difahami. Tinggal yang jadi pertanyaan, bagaimana pelaksaan pendampingan (sebagai peninjau dan pengoreksi) selama ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya tiba juga waktu pelaksanaan sebagaimana sudah ditentukan dalam surat, yaitu hari Jum’at, 16 Desember 2011, tempat: Masjid Jami’, waktu: 20:30 WIB, Dosen Wali: H. Setiawan Lahore, M. A. Begitu datang ke tempat diskusi, suasana sudah ramai, sampai tidak memperhatikan mana kelompok yang ditunjuk sesuai surat. Akhirnya ikut gabung saja di tempat Sdr. Toni, dan baru sadar ketika diskusi sudah jalan, bahwa nama kelompok bimbingan dosen wali sudah tercantum di tiang-tiang masjid. Merasa lucu sendiri dengan hal ini.</p>
<p>Kelompok diskusi pada kelompok yang saya damping terdiri dari 10 Mahasiswa fakultas Tarbiyah semester pertama. Kelompok ini membahas tentang BUDI PEKERTI (MORAL), sebagaimana tertulis dalam dua lembar sajian bahasan diskusi yang ditampilkan oleh Saudara Desta Habil Dwi P/PAI I.</p>
<p>Sebagai masukan atau koreksi, sesuai dengan permintaan surat, Sedikit saya permaklumkan kepada teman-temanku yang diskusi agar jalannya diskusi tidak hanya berisi pertanyaan kepada penyaji ide saja. Kan tetapi hendaknya ada juga pernyataan yang bersifat keterangan tambahan atau ide pembanding dari peserta diskusi lain agar supaya diskusi tidak terkesan seperti; sekali lagi seperti, serangan terhadap penyaji. Sedangkan yang lain memposisikan diri sebagai penanya yang sama sekali tidak tahu tentang apa-apa terkait tema diskusi.</p>
<p>Adapun mengenai koreksi isi bahasan, Sdr. Toni yang memiliki latar belakang akademi pendidikan sya rasa pasa dan mumpuni untuk memberikan masukan lebih jauh. Dan betul saja, banyak masukan yang diberikan kepada teman-teman diskusi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=227&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/17/kajian-jumat-malam-s1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rute</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/17/rute/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/17/rute/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 14:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[14 Jogja-Jember 15 Jember-Malang 16 19 MUI Pusat 20 Juanda Bogor 21 kosong INSIST Darul Muttaqin Darun Najah Cipining Darussalam Garut 25 PG<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=207&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>14	Jogja-Jember<br />
15	Jember-Malang<br />
16<br />
19	MUI Pusat<br />
20	Juanda Bogor<br />
21	kosong<br />
INSIST<br />
Darul Muttaqin<br />
Darun Najah Cipining<br />
Darussalam Garut<br />
25	PG</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=207&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/17/rute/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METAFISIKA (soal ujian DR. Syamsuddin Arif)</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/09/metafisika-soal-ujian-dr-suyamsuddin-arif/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/09/metafisika-soal-ujian-dr-suyamsuddin-arif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 14:01:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[class action]]></category>
		<category><![CDATA[Semester tiga]]></category>
		<category><![CDATA[metafisika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[1. Dari apa yang anda fahami, jelaskan (beserta rujukan): a. Apakah metafisika itu? b. Untuk apa kita belajar metafisika 2. Apakah mungkin kita mengetahui kebenaran? Jelaskan (dengan rujukan) pendapat ahli metafisika Islam mengenai kebenaran! 3. Ahli metafisika berusaha membuktikan Tuhan itu ada secara logis dan rasional. Terangkan (dengan rujukan) beberapa macam cara pembultian (istidlal, ihtijaj) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=212&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Dari apa yang anda fahami, jelaskan (beserta rujukan):</p>
<p>a. Apakah metafisika itu?</p>
<p>b. Untuk apa kita belajar metafisika</p>
<p>2. Apakah mungkin kita mengetahui kebenaran?</p>
<p>Jelaskan (dengan rujukan) pendapat ahli metafisika Islam mengenai kebenaran!</p>
<p>3. Ahli metafisika berusaha membuktikan Tuhan itu ada secara logis dan rasional.</p>
<p>Terangkan (dengan rujukan) beberapa macam cara pembultian (istidlal, ihtijaj) mereka!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=212&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/09/metafisika-soal-ujian-dr-suyamsuddin-arif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imamah Dalam Bingkai Syi’ah dan Ahlus Sunnah</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/08/imamah-dalam-bingkai-syiah-dan-ahlus-sunnah/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/08/imamah-dalam-bingkai-syiah-dan-ahlus-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 17:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Perihal kepemimpinan dalam Islam merupakan satu bagian pemikiran yang memerlukan pembahasan yang panjang terkait wilayah teoritis serta pengaplikasiannya dalam menjalankan kehidupan beragama dan bermasyarakat secara luas bagi kaum muslimin sendiri dan serta terhadap interaksinya dalam turut serta berkehidupan sosial secara lebih inklusif terhadap jajaran komunitas di luar Islam sendiri. Pada semasa hidupnya, Rasulullah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=210&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">A. Pendahuluan</p>
<p style="text-align:justify;">Perihal kepemimpinan dalam Islam merupakan satu bagian pemikiran yang memerlukan pembahasan yang panjang terkait wilayah teoritis serta pengaplikasiannya dalam menjalankan kehidupan beragama dan bermasyarakat secara luas bagi kaum muslimin sendiri dan serta terhadap interaksinya dalam turut serta berkehidupan sosial secara lebih inklusif terhadap jajaran komunitas di luar Islam sendiri. Pada semasa hidupnya, Rasulullah saw. telah menjalankan fungsinya sebagai pemimpin bagi umat Islam dalam beragam aspek. Piagam madinah merupakan satu dari sekian petunjuk jelas pengakuan berbagai komunitas terhadap legitimasi Rasulullah dalam hal kepemimpinan kala itu. Selanjutnya sepeninggal Rasulullah saw. maka pada ketika itu juga mulai bergulirlah persoalan-persoalan terkait siapakah sosok yang selayaknya meneruskan kepemimpinan beliau yang tentunya dikecualikan dalam hal ini adalah meneruskan kenabiannya dikarenakan Rasulullah adalah sebagai Nabi dan Rasul pemungkas. Pada ketika sesudah Rasul wafat, mulanya estafet kepemimpinan Islam bergulir pada para Khulafaur Rasyidin yang terdiri dari empat sahabat dekat Rasul; dan demikian juga estafet kepemimpinan berlanjut pada khalifah-khalifah sesudahnya. Perjalanan kepemimpinan pada era sesudah wafatnya Rasul merupakan sejarah yang penuh pergolakan sehingga disana sering dijumpai peristiwa pergolakan pertentangan yang tidak jarang berujung pada pembunuhan sebagaimana kita ketahui terbunuhnya beberapa penerus Rasulullah terkait kepemimpinan ini. Dalam makalah ini akan dikupas beberapa hal terkait imamah yang menjadi perdebatan dua aliran theologi antara Sunni dan Syi’ah dengan mengetengahkan dasar pijak pendapat serta argumentasi dari kalangan masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">B. Imamah dalam Bingkai Syi’ah</p>
<p style="text-align:justify;">Imamah pada perkembangan pengertianya merupakan pengidentitasan yang khas ada dalam ajaran aqidah Syi’ah. Imamah telah menjadi trade mark dari syi’ah sendiri karena aqidah ini telah dimasukkan dan dijadikan sebagai salah satu rukun dalam keimanan mereka. a. Makna imamah Dalam penelusuran terhadap makna imamah, terhadapnya dapat ditemui arti kepemimpinan, yang secara makna generalnya dapat difungsikan untuk penyebutan pada pemimpin yang baik maupun yang buruk. Secara etimologis imamah merupakan bentuk mashdar dari imam (yang diikuti) yang sama juga memiliki makna pemimpin. Dalam pemahaman internal Syi’ah (imamiyah itsna ‘asyariah) imamah merupakan ajaran primer dalam teologi dan ideology mereka, serta berposisi sebagai doktrin sentral yang mutlak diyakini penganutnya. b. Esensi Imamah bagi Syi’ah Bagi kalangan Syi’ah, baik Zaidiyah , Imamiyyah, maupun isma’iliyyah , imamah merupakan fondasi dalam ajaran mereka. Imamah menduduki urutan ke tiga dari rukun iman kaum syi’ah imamiyah itsna asyariah. Lebih jauh lagi doktrin ajaran inilah bagian paling mendasar bagi mereka, seakan melebihi doktrin tauhid. Pembicaraan mengenai imamah merupakan bagian bahan perdebatan yg terkesan sengit dan seolah tidak menemukan titik kesudahan antara syi’ah dengan kelompok Islam lainnya. Sebagaimana pernyataan yang diutarakan oleh Muhammad Husein Ali Kasyif al-Ghita’, bahwa Iman kepada imamah (kepemimpinan Ali dan sebelas anak keturunannya) merupakan dasar utama syi’ah Imamiyah, dan dasar inilah yang memberikan nilai berbeda dari faham Islam yang lain, terlebih lagi khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah memegangi secara kuat sebuah keyakinan bahwa imamah sepeninggal Rasulullah saw. sudah semestinya harus jatuh ke tangan sahabat Ali bin Abi Thalib dan kemudian seterusnya secara estafet diwariskan kepada anak cucunya sampai berujung pada imam ke dua belas, yaitu Muhammad bin Hasan al-‘Asykari, yang lebih dikenal dengan sebutan al-Mahdi. Dalam pandangan keyakinan mereka, Rasulullah saw. sudah memberikan isyarat mengenai hak dan kedudukan Ali terhadap khilafah atau imamah sepeninggal beliau dalam banyak kesempatan dan dalam banyak pernyataan. Lebih dari itu bahkan beliau secara tegas dan lugas menyampaikan hal ini di sebuah tempat antara makkah dan Madinah sepulangnya beliau dari Haji Wada’. Lokasi tersebut bernama Ghadir Khum. Di lokasi Ghadir Khum inilah, dalam keyakinan pandangan Syi’ah , Rasulullah saw. beristirahat dan selanjutnya berpidato yang mana isi dari pidato beliau ini adalah memberikan wasiat kepada Ali bin Abi Tholib beserta anak cucunya untuk menjadi khalifah atau imam sepeninggal beliau secara turun temurun. Dikarenakan menganggap betapa sangat pentingnya peristiwa Ghadir Khum ini, para penganut Syi’ah menjadikannya sebagai hari raya yang selalu diperingati pada setiap tahunnya. Secara mutlak, Imamah bagi Syi’ah Itsna ‘Asyariah Ja’fariyah diyakini merupakan petunjuk nash, dalam hal ini nash al-Qur’an. Tentu saja dengan menggunakan sudut pandang versi mereka. Serta juga dengan menggunakan nash hadits yang jalur periwayatannya dibangun oleh mereka sendiri dengan melakukan penolakan terhadap riwayat dari kibar shahbat yang menurut mereka telah menghianati sahabat Ali karena tidak memilih beliau setelah wafatnya Rasul. Al-Bahrani, yang merupakan salah seorang mufassir dalam kalangan Syi’ah, dalam karya tafsirnya al-Burhan fi Tafsir al-Qur’an menafsirkan maksud dari QS. Al-Maidah: 55-56, yang menurutnya merupakan pernyataan tegas bahwa ayat ini turun untuk sahabat Ali ra. إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ {55} وَمَن يَتَوَلَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُونَ {56} “Sesungguhnya penolong kamu adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah) (55) Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang (56)” Dalam Syi’ah ayat ini diyakini sebagai sebuah pernyataan yang jelas terhadap kepemimpinan Ali sesudah wafatnya Rasulullah saw. Terlebih lagi dinyatakan oleh kalangan Syi’ah dalam versi mereka sendiri bahwa terdapat riwayat yang melatarbelakangi dari ayat ini, yaitu ketika seorang pengemis datang ke masjid melihat Ali ra. Sedang melakukan sholat, ia meminta kepadanya, dan pada saat itulah Ali ra. Memberikan sebentuk cincin kepada pengemis tersebut. Penggunaan redaksi dalam bentuk jamak (plural pada ayat di atas), oleh kalangan Syi’ah dinyatakan sebagai ayat yang ditujukan kepada Ali ra. Beserta para keturunannya kemudian hari. Dengan pemaknaan yang seperti ini maka artinya sama dengan tidak memberikan ruang bagi orang beriman selain keturunan Ali ra. Sendiri. Pada taraf selanjutnya menjadikan timbulnya kesan seolah imamah bahkan melebihi nubuwwah. Bahkan tidak sebagaimana yang terjadi pada tiga khalifah yang pertama, dimana sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman membutuhkan bai’at sebelum melaksanakan tugasnya sebagai khalifah, malahan keturunan Ali ra. Yang belum lahir pun sudah diangkat sebagai imam dengan tidak membutuhkan bai’at. Dalam karya tafsir yang cukup terkenal lainnya, al-Mizan, yang merupakan karya monumental dari seorang ulama’ Syi’ah yaitu Sayyid Husain Thabathaba’i, dalam tafsirnya tersebut menyatakan juga bahwa maksud dari ayat di atas adalah menunjukkan kepada Imam Ali dan keturunannya (al-aimmah). c. Ketetapan-ketetapan syi’ah terhadap imamah 1. Para imam memiliki sifat ma’shum (terjaga dari berbagai kesalahan), mereka terbebas dari melakukan dosa baik semasa kecilnya maupun semasa dewasa, artinya sepanjang hidupnya para imam ini tidak pernah melakukan dosa baik itu dosa keci maupun dosa besar. Lebih dari itu dalam pandangan Syi’ah, para imam ini juga terlepas dari melakukan kesalahan atau pun lupa. 2. Setiap imam dititipi ilmu dari Rasulullah saw. untuk menyempurnakan syari’at Islam. Imam memiliki ilmu laduni. Serta tidak ada perbedaan antara imam dengan Rasulullah saw. Sedang yang membedakan adalah bahwasannya Rasulullah saw. mendapatkan wahyu. Rasulullah saw. telah menitipkan kepada mereka rahasia-rahasia syari’at Islam, agar mereka mampu memberikan penjelasan kepada manusia sesuai dengan kebutuhan zamannya. 3. Khawariqul ‘Adah (sesuatu yang luar biasa). Bahwa peristiwa yang luar biasa boleh terjadi pada diri imam, dan hal itu disebabkan oleh mu’jizat. Jika tidak ada satu teks tertulis dari imam sebelumnya, maka dalam kondisi seperti itu penentuan imam harus berlangsung dengan sesuatu yang luar biasa itu. 4. Raj’ah (muncul kembali). Diyakini oleh para pengikut Syi’ah bahwa Imam Hasan al-Askari akan datang kembali pada akhir zaman, ketika Allah mengutusnya untuk tampil kembali. Dalam keyakinan mereka, ketika sang imam kembali, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan pada saat dunia ini sedang dilanda oleh kekejaman dan kedholiman. Dan ia akan mencari para lawan-lawan dari Syi’ah sepanjang sejarah. 5. Imamah dalam Syi’ah menempati posisi yang vital dalam hal keimanan. Dalam rukun iman Syi’ah yang jumlahnya ada lima, keimanan terhadap imamah menempati urutan ke empat sesudah iman kepada Allah, al-‘Adl (keadilan Allah), dan Nubuwwah (kenabian).</p>
<p style="text-align:justify;">C. Imamah Dalam Bingkai Ahlus Sunnah</p>
<p style="text-align:justify;">Membedai dari pemahaman dan keyakinan yang terdapat dalam Syi’ah, para ulama’ ahlus sunnah lebih menggunakan terma khilafah atau Imarah. Dan berpegangan bahwa menjelang wafatnya, Rasulullah tidaklah menunjuk langsung penggantinya. Serta keputusan siapa pemimpin kaum muslimin ada dalam musyawarah mereka sesuai dengan nash al-Qur’an: وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ “Dan (bagi) orang-orang yang beriman (mematuhi seruan Tuhannya) dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.” فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِب الْمُتَوَكِّلِينُّ “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” Dua ayat di atas merupakan bagian dari sandaran yang dipakai dalam lingkungan ulama’ ahlussunnah wal jama’ah guna menyatakan bahwa kepemimpinan atau imamah itu sifatnya bukanlah dari penunjukan Rasul. Bahkan Rasul sendiri tidak pernah secara jelas dengan pasti menunjuk siapa yang meneruskan kepemimpinan selepas beliau wafat. Lebih jauh lagi hal ini dianggap menunjukkan bahwa mekanisme kepemimpinan dalam Islam kualifikasinya lebih diserahkan kepada forum permusyawarahan oleh umat Islam sendiri. a. Pengangkatan Imam dalam Perspektif Ulama’ Ahlus Sunnah Meskipun dalam beberapa hal ulama ahlus Sunnah tidak memiliki persamaan pandangan dalam menjelaskan metode-metode pengangkatan serta pelantikan imam, akan tetapi terdapat hal-hal pokok yang menjadi acuan dalam penentuan pengangkatan Imam atau khalifah, yang bisa ditarik garis benang merahnya. 1. Pengangkatan imam melalui forum ahlul halli wa al-‘aqdi. Di sini yang dimaksud dengan baiat ahlul halli wa al-‘aqdi adalah bahwa sekelompok pembesar dan tokoh masyarakat menerima imamah, kekhalifahan atau kepemimpinan seorang imam melalui baiat dan menunjukkan loyalitas praktis mereka untuk mentaatinya. Metode seperti ini tidak menentukan batas kuorum tertentu dalam jumlah pembaiat, dari hal inilah maka bila ada hanya salah seorang dari ahlul halli wa al-‘aqdi berbaiat kepada seseorang, maka dianggap sudah mencukupi untuk menetapkan keimamannya. 2. Dalam menetapkan prasyarat-prasyarat yang idealnya dimiliki oleh seorang pemimpin atau imam, terdapat beberapa hal yang telah ditetapkan terkait persoalan ini, pemimpin haruslah dari orang yang berilmu. Diantaranya ilmu agama setingkat Qodhi, ilmu peperangan guna membentengi rakyat, ilmu manajemen dan administrasi untuk mengatur umat. b. Beberapa pandangan ulama’ ahlus sunnah terhadap imamah Dalam menetapkan ketentuan yang mestinya dimiliki oleh seorang imam, berikut beberapa pernyataan dari ulama’ ahlus sunnah: 1. Al-Baqillani Al-baqillani menyebutkan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai karakter-karakter tertentu yang layak dijadikan sebagai seorang pemimpin, diantaranya: 1. Pemimpin harus berilmu yang nantinya bisa dijadikan pegangan pada saat memimpin. Diantaranya ilmu agama setingkat Qadi, ilmu peperangan untuk membentengi rakyat, ilmu manajemen dan administrasi untuk mengatur umat. 2. Pemimpin harus punya keberanian dan ketahanan emosi untuk menegakkan hokum demi berjalannya keadilan dalam segala aspek. 3. Pemimpin tidak harus maksum (terjaga dari kesalahan), mengetahui hal-hal yang ghaib, dan tidak juga mereka yang paling berani. 4. Pemimpin haruslah yang terbaik (al-afdhol) diantara sekalian banyak orang yang ada. Namun, apabila terjadi ketidaksepakatan untuk memilih orang ini, maka boleh diambil dari yang terbaik yang memungkinkan (a-mafdhul). 2. Imam Mawardi Mensyaratkan seorang pemimpin memiliki kualifikasi sebagaimana berikut: 1. Memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk berijtihad 2. Adil dengan segala persyaratannya 3. Sehat pendengaran, penglihatan, lisan serta utuh anggota-anggota tubuhnya. 4. Memiliki wawasan yang baik untuk mengatur kehidupan rakyat dan mengelola kepentingan umum. 5. Memiliki keberanian yang memadai untuk melindungi rakyat dan menghadapi musuh 6. Berasal dari keturunan Quraisy. 3. Abdul Qodim Zalllum Syarat yang ditetapkannya meliputi beberapa hal, yaitu: 1. Laki-laki 2. Muslim 3. Baligh 4. berakal 5. Merdeka Meskipun syarat-syarat yang dikemukakan para pemikir kepemimpinan Islam terdapat beberapa perbedaan, akan tetapi pada prinsipnya mengandung satu maksud yang tidak jauh berbeda. Keturunan Quraisy misalnya, pada dasarnya ini adalah merupakan sisi keutamaan saja. Artinya, secara kontekstual interpretative dapat dikatakan, bahwa kepemimpinan bukan pada etnis Quraisynya, melainkan pada kemampuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">D. Analisa Kepemimpinan, imamah atau kekhalifahan dalam Islam pada prinsipnya sudah ada sejak sepeninggal Rasulullah saw. Rujukan utama dalam menentukan kebijakan publik secara luas telah dijelaskan secara umum dalam al-Qur’an dan hadits. Namun, detil teknis pelaksanaan yang berkaitan dengan metode penggantian kepemimpinan masih memerlukan adanya analisa dan metode pendekatan yang dipakai untuk memaparkan ide kepemimpinan tersebut. Pembahasan mengenai konsep imamah dalam bingkai pemahaman Syi’ah, dimana disana disebutkan mengenai kriteria-kriteria tertentu mengandalkan dan bersandarkan pada beberapa hadits ahad yang berlawanan dengan kesepakatan para sahabat generasi awal untuk patuh kepada Abu Bakar ketika itu sebagai pemimpin sepeninggal Rasulullah saw. kegagalan mereka dalam mengajukan bukti-bukti hadits, sebagai gantinya, mereka mengajukan konsep taqiyah untuk berargumentasi terhadap metode pemilihan (ikhtiyar) sebagai jalan untuk memilih kepemimpinan mereka. Persyaratan seorang Imam dalam Syi’ah sangat tertutup hanya dalam lingkup khusus kalangan ahlul bayt dan juga harus secara terwasiat. Jadi kalangan lain di luar golongan yang sudah mereka tentukan dianggap tidak berhak untuk menduduki jabatan sebagai imam atau pemimpin bagi kaum muslimin.</p>
<p style="text-align:justify;">E. Penutup</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan imamah merupakan bahasan tersendiri dalam dunia pemikiran maupun ranah hukum dalam Islam yang telah banyak mendapat perhatian secara khusus dari para ulama’ Syi’ah maupun ahlus sunnah. Secara tertutup dalam paham Syi’ah ditetapkan hanya kalangan ahlul bayt versi mereka saja yang berhak menyandang predikat sebagai imam untuk kaum muslimin. Adapun di luar itu, maka mereka sama sekali tidak mengakuinya. Berbeda dengan kalangan Syi’ah, kalangan ahlus sunnah berdasarkan pada argumentasi dalil yang mereka miliki tidak mensyaratkan hal-hal yang telah ditetapkan dalam aqidah Syi’ah, akan tetapi lebih bertumpu pada kualifikasi kualitas diri seorang pemimpin itu sendiri, dimana hal ini lebih diserahkan kepada musyawarah umat serta aturan teknis pelaksanaannya masih mungkin dilaksanakan tidak hanya dengan menggunakan satu metode penetapan. menerapkan Membicarakan imamah lebih jauh, tentunya juga pada mulanya berangkat dulu dari konsep tentang pemerintahan dalam Islam. Dimana persolan ini pun tidak kalah sengitnya terjadi perdebatan panjang di antara para pemikir Islam dalam penetapan hukumnya meskipun secara jamak dapat ditemui jawaban tentang keharusan keberadaannya sebagai sebuah keniscayaan menjadi lantaran terlaksananya ajaran Islam secara sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">DAFTAR PUSTAKA ‘Ali Muhammad Muhammad al-Shulabiy, Fikr al-Khawarij wa al-Syi’ah fi Mizan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Kairo: Iqro’, 2007) Abdul Qodir Zallum, Demokrasi Sistem Kufur, terj. Muhammad Shiddiq al-Jawi, (Depok: Pustaka Thoriqul ‘Izzah, 2001). Abu Bakar Ahmad ibn Ali al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt) Al-Maqashid Syarh Al-Maqashid, jilid 5. Galib ibn `Ali ‘Iwaji, Firaqun Mu`asirah tantasibu ila al-Islam, (Madinah: Dar Layyinah, 1998 M/1418 H), Jilid I. Imam Mawardi, al-Ahkam al-Shulthoniyah wa al-Wilayah al-diniyah, hal. 6. Irfan Zihd, Bunga Rampai Ajaran Syi&#8217;ah (Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi&#8217;ah), (Jakarta: LPPI, 2002) Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam “Islamia”, Vol. V, No. 2. Tahun 2009. Mohammad Baharun, Epistemologi Antagonisme Syi’ah dari Imamah sampai Mut’ah (Malang: Pustaka Bayan, 2004) Muhammad Husain adz Dzahabi, al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al Qur&#8217;an al Karim (terjemahan dengan judul: Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Penafsiran Al Qur&#8217;an), (Jakarta: Rajawali, Cet II, 1991) Musa al-Musawi, Meluruskan Penyimpangan Syi’ah, terj, (Yogyakarta: Qalam, tt) Said Amin, Peristiwa Ghadir Khum Melahirkan Kebohongan Syi’ah Ahlul bait, (Bima: Mustika, 2001) Tim Penulis Buku Pustaka Sidogiri, Mungkinkah Sunnah-Syi’ah dalam Ukhuwwah, (Sidogiri: Pustaka Sidogiri, 2007) Tim Ulin Nuha Ma’had Aly al-Nur, Dirasatul Firaq, Mengenal Madzhab Teologi Islam Klasik dan Aliran Sesat di Indonesia (Solo: Pustaka Arafah, 2010)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=210&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/08/imamah-dalam-bingkai-syiah-dan-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paradigma Baru Teori Kritis Habermas</title>
		<link>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/08/paradigma-baru-teori-kritis-habermas/</link>
		<comments>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/08/paradigma-baru-teori-kritis-habermas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 17:30:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfangigih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfangigih.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Paradigma Baru Teori Kritis Habermas A. Pendahuluan Filsafat kritis merupakan salah satu aliran utama filsafat pada abad ke-20, Di samping keberadaan fenomenologi dan filsafat analitis. Filsafat kritis mendapat inspirasinya dari kritik ideologi yang dikembangkan Marx sewaktu muda, dalam tahap pemikirannya yang disebut Hegelian Muda. Tokoh-tokohnya adalah Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno bersama rekan-rekan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=201&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Paradigma Baru Teori Kritis Habermas<br />
A. Pendahuluan<br />
Filsafat kritis merupakan salah satu aliran utama filsafat pada abad ke-20, Di samping keberadaan fenomenologi dan filsafat analitis. Filsafat kritis mendapat inspirasinya dari kritik ideologi yang dikembangkan Marx sewaktu muda, dalam tahap pemikirannya yang disebut Hegelian Muda. Tokoh-tokohnya adalah Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno bersama rekan-rekan mereka yang pernah bekerja pada Institut Penelitian Sosial Universitas Frankfurt, dan oleh karena itu disebut dengan Mazhab Frankfurt. “teori kritis Masyarakat”,  itulah nama mereka, mulai dikenal publik dalam tahun enam puluhan karena beberapa dari pikiran-pikirannya terutama melalui slogan-slogan salah seorang anggotanya, Herbert Marcuse.<br />
Horkheimer dan Adorno mengembangkan pendekatan itu menjadi kritik menyeluruh terhadap masyarakat industri Barat. Makin masyarakat industri modern menjadi masyarakat konsumsi berlimpah serta berhasil melarutkan pertentangan-pertentangan antar kelas sosial, maka totallah masyarakat itu, dalam pandangan teori kritis masyarakat, dikuasai oleh dasar kapitalisme, yakni prinsip tukar kekuasaan. Dari hal ini Horkheimer dan Adorno menjadi pesimistis.<br />
Dari Horkheimer dan Adorno lah Habermas mendapat pendekatan yang sampai hari ini menjadi ciri khas pemikirannya, yaitu pendekatan kritis dan “materialistik”. Gaya Habermas berfilsafat sangat membedai dengan dua gurunya tersebut (Horkheimer dan Adorno), Habermas tidak pesimistis sebagaimana dua orang gurunya tersebut.<br />
Makalah ini akan mengulas beberapa hal mengenai sosok dan  percik pemikiran Habermas terkait dengan Critical Theory nya.<br />
B. Biografi Jurgen Habermas<br />
Jurgen Habermas adalah seorang filsuf dan sosiolog dari Jerman. Dia adalah generasi kedua dari madzhab Frankfurt. Jurgen Habermas merupakan penerus dari Teori Kritis yang ditawarkan oleh para pendahulunya yaitu Max Horkheimer, Theodor Adorno dan Herbert Marcuse. Teori Kritis yang dipaparkan oleh para pendahulunya berakhir dengan kepesimisan atau kebuntuan. Meskipun begitu, teori kritis tidaklah begitu saja berhenti sampai di sini. Dengan menggunakan paradigma baru, Habermas telah melangkah bergerak kembali membangkitkan teori itu.<br />
Kota Dusseldorf di Negara Jerman merupakan tempat dimana Jurgen Habemas dilahirkan. Dan 18 Juni 1929 merupakan tahun kelahirannya. Adapun kota dimana Habermas dibesarkan adalah Gummersbach. Ini adalah nama sebuah kota kecil yang berdekatan dengan  Dusseldorf yang menjadi kota kelahirannya. Pada awal Habermas memasuki masa remajanya di waktu akhir perang dunia ke dua, baru disadari olehnya mengenai kejahatan-kejahatan dari rezim nasionalis sosialis yang ketika itu berada di bawah komando Adolf Hitler. Dari hal inilah didapati kemungkinan besar yang menjadikannya terdorong untuk menguatkan tentang arti pentingnya demokrasi di negaranya.<br />
C. Study-study Jurgen Habermas<br />
Mengenai disiplin keilmuan yang digeluti oleh Habermas, ia juga merupakan seorang ahli sejarah, kesusasteraan, di samping juga ia seorang filosof. Ia pun banyak bergelut dengan dunia psikologi dan ekonomi. Ini adalah studi-studinya yang dia tempuh di Universitas Gottingen. Ia meraih gelar doktornya di bidang filsafat di Universitas Bonn pada tahun 1945. Adapun bahasan disertasi Habermas adalah berjudul “Yang Absolut Dalam Sejarah” (Das Absolute und die Geshichte) yang merupakan studi tentang pemikiran Schelling. Di saat yang bersamaan dengan itu juga, ia banyak menyibukkan diri aktif dalam diskusi-diskusi yang membahas tentang perpolitikan. Dari sinilah Habermas termotivasi untuk turut serta masuk ke dalam partai National Society Germany.<br />
D. Relasi Marx dan Teori Kritis<br />
Karl Marx sebagai pendahulu Habermas adalah tokoh yang secara radikal mengkritik pola dan praktek liberalisme-kapitalisme, yang memang bertentangan dengan prinsip pencerahan dan emansipasi sebagaimana dimaksud dalam humanisme-antroposentris. Marx yakin bahwa lewat perjuangan kelas dan revolusi, susunan masyarakat kelas akan diruntuhkan, sehingga persamaan dengan terhapusnya hak milik dan hubungan pemilikan subjek-objek, alienasi, nantinya akan menjadi lenyap.  Akan tetapi rupanya Marx dengan materialisme sejarahnya masih terjebak pada statisme masyarakat. Sama dengan pola positivisme, Marxisme menilai masyarakat hanya sampai pada sisi materialnya. Adapun determinisme ekonomi Marxisme juga berdasarkan atas pemahaman positivistis tentang proses-proses sejarah masyarakat, yaitu bahwa sejarah masyarakat berlangsung menurut keniscayaan hukum-hukum alam. Karena basis (ekonomi)  masyarakat menentukan superstruktur, maka perubahan pada basis itu  berarti mengubah superstruktur.<br />
Dengan didasari keprihatinan untuk mengatasi problem determinisme ekonomi Marxisme ortodok tersebut, selanjutnya lahirlah pemikiran kritis  yang dikenal dengan “Teori Kritis”. Teori kritis itu sendiri pada mulanya dirumuskan oleh Max Horkheimer dan para filsuf yang tergabung  dalam “Madzhab” Frankfurt, sedangkan posisi Habermas adalah sebagai pembaharu. Berbeda dari Marxisme ortodok, teori kritis hendak mengembalikan Marxisme menjadi filsafat kritis. Karena sifatnya yang kritis, teori kritis dimaksudkan sebagai inspirator dan katalisator bagi sebuah gerakan dalam masyarakat sebagaimana watak Marxisme, yang geuine dan kritis-revolusioner. Akan tetapi teori kritis Mazhab Frankfurt ternyata mengalami kebuntuan.<br />
E. Teori Kritis<br />
Habermas memberikan sebuah gambaran mengenai teori kritis, dimana teori kritis ini merupakan sebuah metodologi yang ditegakkan di dalam ketegangan dialektis antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Adapun ilmu pengetahuan yang dikehendaki di sini adalah ilmu pengetahuan yang bernuansa sosiologis. Menurutnya lagi, teori kritis pada dasarnya bukanlah merupakan suatu teori ilmiah  sebagaimana yang dikenal oleh kalangan luas masyarakat atau publik akademis. Jika pada umumnya aliran positifistik berhenti pada tataran fakta-fakta obyektif, maka teori kritis tidak hanya berhenti sampai di situ. Bisa disebut bahwa teori kritis ini merupakan teori ideologi. Teori kritis berusaha untuk dapat menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis guna menemukan kondisi kondisi yang bersifat transendental yang melampaui data empiris.  Teori kritis ini sendiri merupakan buah hasil yang dimunculkan oleh mazhab Frankfurt, dimana teori ini mempunyai maksud membuka seluruh selubung ideologis dan irrasionalisme yang telah melenyapkan kebebasan dan kejernihan berfikir yang dimiliki oleh manusia modern. Pada tahap selanjutnya teori kritis ini mengalami sebuah kemacetan dan kepesimisan. Akan tetapi teori kritis  yang lahir dari rahim para pendahulu Habermas ini tidaklah berakhir begitu saja. Habermas yang merupakan penerus dari mazhab Frankfurt yang disana ada Max Horkheimer, Herbert Marcuse dan Theodor Adorno pada kesempatan berikutnya hendak kembali membangkitkan teori tersebut melalui sebuah paradigma baru.<br />
Dalam pandangan Habermas, setiap penelitian ilmiah diarahkan oleh kepentingan-kepentingan utama manusia (dalam ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu alam). Dikarenakan hal tersebut, maka postulat tentang kebebasan nilai merupakan sesuatu yang tidak nyata. Tidak hanya untuk ilmu-ilmu sosial, akan tetapi juga untuk ilmu-ilmu alam. Sedangkan menihilkan nilai-nilai dari fakta-fakta adalah sama saja dengan mempertentangkan Sein (ada) yang murni dengan Sollen (seharusnya) yang abstrak.<br />
F. Faktor-faktor Kebuntuan Teori Kritis<br />
Dalam pandangan Habermas, kebuntuan-kebuntuan yang terjadi pad mazhab Frankfurt adalah disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: 1) Terjebak oleh daya integrativ sistem masyarakat kapitalisme lanjut (the old capitalism), padahal dalam kenyataannya kaum buruh tidak mesti sepenuhnya terhegemoni dalam masyarakat kapitalis itu; 2) Teori kritis tetap bertolak pada pandangan Marx yang terlalu pesimis terhadap manusia yang memandang manusia semata-mata makhluk ekonomi dengan dialektika materialnya; dan 3) Teori kritis menerima sepenuhnya pemikiran Marx, bahwa manusia adalah makhluk yang bekerja, yang berarti juga menguasai.<br />
Pada saat yang demikian itulah Habermas memberikan celah jalan keluar dengan melalui cara rekonstruksi besar-besaran terhadap teori kritik mazhab Frankfurt denan memadukan teori-teori sebelumnya. Dalam pandangan Habermas, teori kritis mazhab Frankfurt melakukan kesalahan ketika menerima begitu saja pemikiran Marx yang mereduksikan manusia pada satu macam tindakan saja, yaitu pekerjaan, termasuk ketika berinteraksi dengan orang lain. Karena bekerja selalu berarti menguasai, maka pekerjaan untuk pembebasan itu selalu akan menghasilkan perbudakan baru yaitu pergumulan untuk saling menguasai (Marx), saling menghisap (Horkheimer) atau the struggle for life, the survival of the fittest menurut Darwin.<br />
G. Paradigma Baru Teori Kritis<br />
Habermas memberikan batasan pemisah di antara komunikasi (interaksi) dan pekerjaan Adapun pekerjaan baginya merupakan tindakan instrumental dan merupakan sebuah tindakan yang memiliki tujuan guna mencapai sesuatu. Adapun pandangan Habermas mengenai komunikasi, ia adalah sebuah perwujudan dari tindakan saling pengertian. Menurut Habermas, langkah-langkah komunikasi dapat memberikan solusi dalam menyelesaikan kemacetan teori kritis yang sebelumnya telah ditawarkan oleh oleh para pendahulunya. Maka ia menambahkan sebuah konsep komunikasi di dalam teori kritis tersebut. Dalam tradisi yang telah ada di dalam mazhab Frankfurt, tidak dapat dipisahkan antara teori dan praksis. Praksis dilandasi oleh kesadaran rasional, rasio itu sendiri tidak hanya wujud di dalam kegiatan-kegiatan yang bekerja melulu, melainkan interaksi dengan orang lain menggunakan bahasa sehari-hari. Adapun selain itu, para pendahulu Habermas memandang rasionalitas sebagai kekuasaan dan penaklukan.<br />
Dalam pendirian Habermas, kritik hanya dapat maju dengan rasio komunikatif yang dimengerti sebagai tindakan komunikatif  atau praksis komunikatif. Bagi Habermas masyarakat komunikatif bukanlah masyarakat yang melakukan kritik dengan sarana kekerasan atau melalui revolusi; akan tetapi melalui argumentasi-argumentasi. Selanjutnya Habermas membedakan dua macam argumentasi, yaitu argumentasi kritik, dan argumentasi diskursus atau perbincangan.<br />
Teori kritis yang difahami sebagai ‘teori sosial yang dikonsepsikan dengan intens praktis’, merupakan buah pikiran yang muncul dari refleksi yang luas tentang hakikat pengetahuan, struktur dari penelitian sosial, dasar normatif interaksi sosial dan tendensi-tendensi politi, ekonomis dan sosio-kultural. Habermas juga dinilai sebagai teoritikus neo-Marxian yang pada awal-awal tahun dalam karirnya dia secara langsung sudah diasosiasikan dengan mazhab kritis. Dan sekalipun dia memberikan suatu sumbangan yang dinilai penting pada teori kritis, selama bertahun-tahun dia menggabungkan teori Marxian dengan banyak masukan teori yang lain dan kemudian dapat menghasilkan serangkaian gagasan teoritis yang sangat khas. Habermas merupakan representasi atau juru bicara yang memiliki pengaruh terkuat dari tradisi Frankfurt. Sebagaimana garis pemikiran yang telah dibuat oleh para pemikir-pemikir mazhab Frankfurt, Habermas telah membuat kajian yang paling khusus tentang komitmen epistemologis.<br />
Habermas tertarik untuk menunjukkan adanya kaitan antara kekuasaan dan pengetahuan dengan memaparkan suatu ‘politik epistemology. Teori Habermas mengungkapkan kebutuhan epistemologis dan etis bagi adanya suatu komitmen pada sebagian pemikir untuk secara kritis merefleksikan keyakinan-keyakinan pribadi dan sosialnya. Arah aksiologis yang demikian kiranya mampu menjawab kebutuhan pengembangan ilmu sosial dan juga ilmu humaniora, terlebih ilmu-ilmu humaniora memiliki kesulitan metodologis khusus yang meski juga diatasi, yakni bahwa pada ilmu-ilmu humaniora secara umum, dan khususnya pada filsafat, tidak terdapat sebuah ‘metode’ yang melindungi dari kemungkinan terjadi kekeliruan ‘metodologis’ sebagaimana misalnya jika dibandingkan  dengan metode yang terdapat pada ilmu-ilmu eksperimental dan statistik. Dengan suatu reorientasi dasar terhadap cara pandang tentang manusia dan masyarakatnya, dan orientasi aksiologi sosial yang jelas, perspektif  teori kritis Habermas diharapkan mampu pada sisi memberikan pijakan kritis-akademis yang memadai dalam analisis sosial, pada sisi lain juga memberikan pijakan praksis-rasional dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan yang mengancam peradaban manusia dewasa ini.<br />
Bagi Habermas, masalah yang mengancam masyarakat modern adalah bagaimana validitas dan legitimasi dari sebuah tatanan sosial dapat ditetapkan ketika tindakan komunikatif menjadi otonom dan tindakan strategis yang ditujukan kepada kepentingan pribadi mulai dibedakan dari tindakan komunikatif yang bertujuan untuk meraih pemahaman. Bagaimana bisa dunia-hidup yang mengecewakan, yang secara internal terpilah-pilah, dan yang terplurasi dapat secara sosial diintegrasikan, jika pada saat yang sama resiko pertikaian bertumbuh, khususnya dalam ruang-ruang tindakan komunikatif yang telah putus ikatan dengan otoritas.<br />
H. Teori Diskursus Habermas<br />
Terdapat sebuah pertanyaan mendasar yang dilontarkan oleh Habermas, yaitu apakah syarat kemungkinan kehidupan bersama secara politis di dalam masyarakat-masyarakat yang beragam dewasa ini, setelah usaha-usaha legitimasi politis tradisional yang kebal terhadap kritik mengalami krisis? Habermas berusaha memberikan jawaban terkait persoalan ini. Untuk itu habermas tidak mencari pendasaran akhir moral maupun rasio yang menjadi pijakan metafisis teori-teori politik klasik. Sebab, sebagaimana dikatakannya, bahwa kehidupan kita bersama secara politis pada saat-saat ini yang ditandai oleh kemajemukan orientasi nilai dan kepentingan tidak lagi dapat diartikulasikan melalui konsep-konsep metafisis tradisional.<br />
Yang menarik dalam analisa Habermas adalah realita pada masyarakat-masyarakat sesudah masa tradisional, argumentasi tentang tata aturan politis bersama yang controversial memainkan peran yang semakin urgen. Dan pijakan akal-budi dan moral dalam pandangan Habermas sebenarnya hanya merupakan sebentuk sumbangan yang mungkin saja bagi sebuah proses terbuka untuk mencapai sebuah kesepakatan.<br />
H. Analisa<br />
Memahami gagasan dari teori kritis yang dicanangkan oleh Jurgen Habermas merupakan pekerjaan yang tidak sederhana. Merumuskan serta memberikan definisi yang kongkrit mengenai konsep teori kritis ini pun merupakan pekerjaan yang lain lagi. Teori kritis sesuai dengan namanya, merupakan sebuah teori yang diwujudkan dengan jalan kritik dari para filosof. Sedangkan cara untuk dapat membentuk, mengolah dan mengembangkannya adalah dengan selalu melakukan komunikasi, dialog bahkan debat. Dengan dasar pengasumsian yang seperti ini, maka cara terbaik untuk mengembangkan teori kritis  adalah dengan selalu melakukan komunikasi, dialog dan debat; sebab dengan proses perbenturan ide yang tidak berujung inilah teori kritis dapat dipahami dengan baik.<br />
Para teoritisi aliran Frankfurt memberikan pembedaan secara tajam antara teori–teori kritis (critical theories) dengan teori-teori ilmiah (scientific theories). Di antara kedua teori tersebut dapat dimunculkan perbedaan atas dasar tiga dimensi sebagaimana berikut:<br />
Pertama, Antara teori kritis dan teori ilmiah mempunyai segi perbedaan dalam hal tujuan yang hendak dicapai serta berbeda pula dari cara orang yang ingin menggunakan atau menerapkan kedua teori tersebut. Teori ilmiah mempunyai sifat manipulative terhadap dunia eksternal, serta andaikata pun teori-teori ini ini bisa digunakan secara efektif guna mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan pemakainya.<br />
Di antara tujuan dari teori kritis adalah mengadakan emansipasi serta pencerahan. Diharapkan nantinya pengguna teori ini akan memiliki kesadaran serta kepekaan terhadap adanya kekerasan yang terselubung. Dengan teori ini, kesadaran terhadap proses penindasan dan eksploitasi manusia dalam dunia social akan segera dapat disadari.<br />
Kedua, antara teori ilmiah dan teori kritis mempunyai sisi perbedaan dalam segi struktur logika serta kognitifnya. Teori kritis merupakan teori reflektif atau self referensial dalam tatanan logikanya. Sedangkan teori ilmiah struktur logikanya adalah objectifying yang menandaskan bahwa terdapat usaha untuk memberikan pemisahan dan pembedaan secara jelas antara sebuah teori dan objek yang dijadikan rujukan teori tersebut. Artinya, teori dipisahkan dari Object-domain yang menjelaskan teori tersebut.<br />
Tidak terdapatnya pembedaan yang jelas antara teori dan objek. Dengan demikian maka teori kritis seringkali disebut sebagia bagian tak terpisahkan  object-domain yang menjelaskannya. Teori kritis lebih menyajikan semacam pembuktian yang sangat bersesuaian guna menentukan apakah secara kognitif teori-teori tersebut diterima atau ditolak. Dari sinilah terjadi proses konfirmasi yang berlangsung terus menerus antara teori kritis dengan berbagai bukti yang bersesuaian dan menunjang. Hal demikian inilah yang tidak terdapat dlam teori ilmiah. Teori ilmiah membutuhka pembuktian nyata yang empiris yang didapat dari kegiatan pengamatan serta eksperimen. Dengan demikian jika tidak terdapat bukti empiris, maka teori ilmiah tidak dapat dioperasikan serta tidak memiliki signifikansi metodologis bagi serangkaian kegiatan ilmiah.<br />
Pada dasarnya teori kritis tidaklah dapat dengan begitu saja dikatakan sebagai suatu paradigm, akan tetapi lebih tepatnya dapat disebut sebagai suatu cara pandang terhadap realitas yang berorientasi ideologis terhadap suatu faham tertentu.  Adapun yang dimaksud ideology disini adalah meliputi : Neo Marxisme, Materialisme, feminism serta faham-faham yang setara itu.  Teori kritis tidak lain adalah merupakan suatu aliran pengembangan keilmuan yang didasarkan pada sebuah konsepsi kritis terhadap beragam pemikiran serta pandangan yang sebelumnya dikenali sebagai faham keilmuan lainnya.<br />
Sedangkan teori kritis jika ditinjau dari segi ontologisnya, maka akan diketahui bahwa paradigm ini mempunyai kesamaan nilai dengan Post-positivisme yang menilai obyek atau realitas secara critical realism, yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Dikarenakan hal tersebut maka untuk mengatasi masalah ini, secara metodologis paham ini mengajukan metode dialog dan komunikasi dengan transformasi guna dapat mencapai kebenaran realitas yang hakiki.<br />
I. Penutup<br />
Teori kritis Habermas berangkat dari kebuntuan-kebuntuan yang dialami oleh para pendahulunya. Selanjutnya Habermas mencoba mencari celah jalan keluar dari kebuntuan ini yang setelah dianalisanya ternyata antara Mazhab Frankfurt dan Marxian pada dasarnya masih sangat bertalian. Diantaranya masih memandang manusia masih sebagai makhluk ekonomi yang bekerja dan yang saling menguasai Sehingga penyikapan untuk segera merumuskan batas pemisah yang jelas antara Mazhab Frankfurt dan Marx harus segera diperoleh guna menghasilkan langkah solusinya.<br />
Sasaran utama dari teori kritis adalah kritik terhadap segala bentuk statisme, baik yang digerakkan oleh rasionalitas individu maupun ideology masyarakat. Dalam hal ideology, teori kritis memiliki tiga pandangan; Pertama: kritik secara radikal terhadap masyarakat dan ideology dominan. Kedua, kritik ideology tidak dilakukan untuk memberikan semacam pembenaran dalam bentuk kritik moral. Ketiga, kritik sebagai jiwa dari ilmu pengetahuan sosial dengan kekritisan sebagai basisnya.</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Bertens, K., Filsafat Barat Kontemporer Inggris Jerman (Jakarta: Gramedia. 2002).<br />
Habermas, Jurgen, Ilmu dan teknologi Sebagai Ideologi (Jakarta: LP3ES, 1990).<br />
Hardiman, F. Budi, Kritik Ideologi, menyingkap Pertautan pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas (Yogyakarta: Kanisius, 2009).<br />
Hardiman, F. Budi, Menuju Masyarakat Komunikatif  (Yogyakarta: Kanisius, 2009).<br />
Listiyono (dkk), Epistemologi Kiri  (Yogjakarta: AR-Ruzzmedia. 2007).<br />
Muslih, Muhammad, Filsafat Ilmu, kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar, Cetakan kelima, Agustus 2008).<br />
Suhelmi, Ahmad, Pemikiran Politik Barat, Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan kekuasaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Ketiga, 2007).<br />
Suseno, Frans Magnis, Pijar-pijar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2009).<br />
Tjahyadi, Sindung, Teori Kritis Jurgen Habermas: Asumsi-asumsi Dasar Menuju Metodologi Kritik Sosial; dalam: Jurnal Fakultas Filsafat UGM (Yogya: Agustus 2003, Jilid 34, Nomor 2).</p>
<p>PARADIGMA BARU TEORI KRITIS<br />
JURGEN HABERMAS</p>
<p>Makalah<br />
Disampaikan Pada Seminar Kelas<br />
Untuk Mata Kuliah Filsafat Ilmu</p>
<p>Dosen Pengampu:<br />
Muhammad Muslih, M. Ag.</p>
<p>Oleh:<br />
Irfan Gigih Cahyono<br />
NIM: 32.21.045</p>
<p>PRODI ILMU AQIDAH<br />
PROGRAM PASCASARJANA<br />
INSTITUT STUDI ISLAM DARUSSALAM (ISID)<br />
PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR<br />
PONOROGO<br />
1432/2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfangigih.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfangigih.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfangigih.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfangigih.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfangigih.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfangigih.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfangigih.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfangigih.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfangigih.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfangigih.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfangigih.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfangigih.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfangigih.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfangigih.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfangigih.wordpress.com&amp;blog=10784042&amp;post=201&amp;subd=irfangigih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfangigih.wordpress.com/2011/12/08/paradigma-baru-teori-kritis-habermas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c884068520ee2eeb952672097e68a995?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfangigih</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
