Di tengah keadaan perekonomian negara Indonesia yang masih belum benar-benar membaik, ternyata kejadian-kejadian yang kontra dengan keadaan tersebut masih saja dengan mudah dapat kita temui. Baru- baru ini ketika berita tentang tertangkapnya Nazaruddin di Kolumbia sana, ternyata kita tidak bisa begitu saja melihat dari sisi tertangkapnya saja. Akan tetapi kita juga perlu melihat pada sisi lain yang mungkin kurang dapat perhatian.
Tahukah kita berapa biaya yang dibutuhkan untuk memulangkan Nazaruddin dari negara tersebut? Jika jawaban yang kita berikan masih berkisar pada angka ratusan juta rupiah, jelas angka ini masih meleset jauh dari biaya sebenarnya yang dikeluarkan. Ternyata angka rupiah yang digunakan untuk dapat memulangkan Nazaruddin ke Indonesia ini adalah berkisar pada angka empat miliar, alias satu juta kali empat ribu rupiah. Banyak bukan?
Kita tentu bisa senang mendapati kinerja dari pihak terkait yang menangani kasus seputar Nazaruddin sampai saat sekarang tertangkapnya. Sehingga simpang siur berita tentang Nazaruddin yang selama ini lalu lalang mengganggu kenyamanan kita, entah karena selama ini banyak orang di sekeliling yang menyebutkan kasusnya, akan tetapi tidak kita dapati kejelasan beritanya sebab yang bersangkutan saja keberadaannya tidak diketahui.
Dari kejelasan tentang telah tertangkapnya Nazaruddin dan juga kepastian telah tibanya Nazaruddin ke Indonesia, setidaknya ketidaknyamanan yang selama ini lalu lalang di sekeliling kita akan segera sirna seiring terungkapnya selubung yang menutupi kasus ini. Ini tentunya yang menjadi harapan publik luas di indonesia.
Namun kembali ketika melihat angka rupiah yang dikeluarkan oleh pihak pemerintah untuk memulangkan Nazaruddin ke Indonesia, tentunya akan ada pertanyaan lain yang muncul; “sebegitu banyak ongkos yang harus dikeluarkan, untuk apa sajakah biaya tersebut?.”
Apa istimewanya Nazaruddin sampai harus dipulangkan dengan pesawat jet sewaan khusus dan tidak dipulangkan dengan pesawat komersial biasa? Ternyata ada alasan yang entah dari sudut pandang mana bisa kita nilai pantas untuk diambil sebagai pilihan. Sebagaimana dikutip dari kantor berita Indonesia Antara, alasan yang dikemukakan adalah “tidak praktis,” demikian alasan yang dikemukakan oleh Sekretaris Kabinet, Dipo Alam ketika memberikan penjelasan mengenai proses pemulangan Nazaruddin kenapa harus memakai pesawat sewaan khusus dan bukannya menggunakan pesawat komersil biasa.
Adapun mengenai pihak mana yang mengeluarkan biaya untuk pemulangan Naaruddin ke Indonesia, tentu pihak Kolumbia tidak mau ditambah repot dengan proses penangkapan dan menanggung biaya pemulangannya sekaligus. Akan tetapi jika dikatakan bahwa yang membiayai pemulangan Nazaruddin ke indonesia adalah pemerintah Indonesia, ini juga sama tidak benarnya dengan pernyataan yang pertama tadi. Sebab biaya pemulangan Nazaruddin ke Indonesia dikeluarkan oleh KPK yang statusnya merupakan lembaga negara, bukan lembaga pemerintah. Lalu apa bedanya menyebut apakah dana itu dikeluarkan oleh lembaga pemerintah atau lembaga negara jika uang yang dipakai juga sama berasal dari satu sumber, yaitu APBN.
Kembali suguhan ungkapan yang berbau akrobat dari pejabat pemerintah indonesia ini semakin memberikan pengertian yang ambigu, namun sebenarnya dapat dengan mudah difahami tanpa perlu banyak memberikan uraian lebih jauh yang berbelit-belit. Tetap saja yang digunakan untuk membiayai pemulangan Nazaruddin ke Indonesia tersebut berasal dari dana pajak yang dibayarkan oleh rakyat ke kas negara.
Dari ironi mengenai biaya besar yang muncul ke permukaan ini, harapan agar dipulangkannya Nazaruddin sang mantan bendahara Partai Demokrat ini membawa kepada terang benderangnya misteri yang mengiringi kaburnya dia ke luar negri. Proses pengadilan yang menjadi tumpuan harapan agar segala tindak korupsi terkait pembangunan wisma atlet SEA Games ini juga hendaknya mendapat pengawalan yang baik dari media dan berbagai komponen bangsa. Agar kasus yang cukup menghebohkan indonesia ini tidak menguap begitu saja sebagaimana sudah terjadi pada kasus lain, semisal kasus Bank Century.
Angka empat miliar rupiah untuk memulangkan kembali seorang tersangka kasus korupsi tentunya bukan jumlah yang sedikit, namun setidaknya angka tersebut bisa sedikit menjadi realistis dengan hasil yang diperoleh. Mengingat pengejaran nazaruddin ini juga melibatkan pihat interpol di berbagai negara yang tentunya mereka bukan hanya sebagai sukarelawan pencari tersangka yang begitu saja secara ikhlas melakukan pekerjaan tanpa adanya biaya imbalan baik sebelum, ketika, maupun sesudah pekerjaan itu dilakukan.
Posted by Nazaruddin Mudik « Ujang Andaleh – Unand on 13 Agustus 2011 at 7:18 pm
[...] pemulangan Nazaruddins sendiri sebesar 4 milyard. tetap saja biaya tersebut dari pajak. “S0 What?“, kata Menko Polhukam. Share this:FacebookEmailPrintLike this:SukaBe the [...]
Posted by irfangigih on 18 November 2011 at 4:44 pm
Itu dia kalo sudah kepekaan sosialnya kurang diasah, jadinya tumpul dan cenderung kasih jawaban yang bikin gak enak masyarakat luas.
Posted by Cahya on 13 Agustus 2011 at 7:40 pm
Apa tidak bisa dikirim via peti kemas ya, ah, bikin repot saja …
Posted by irfangigih on 18 November 2011 at 4:43 pm
Sebenernya kemarin mau dikirim via fedex. Berhubung pihak fedex keberatan takut ketularan, jadi terpaksa sewa pesawat yg udah ada fasilitas anti tertular wabah korupsinya.